Inflasi AS Jinak, Kilau Emas Sedikit Meredup
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas sedikit melemah pada Kamis (12/12/2025) setelah pasar mencerna data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi, meski kenaikan tingkat pengangguran AS pada November membatasi tekanan penurunan lebih lanjut.
Harga emas spot diperdagangkan turun 0,2% menjadi US$ 4.330,39 per ons. Sebelumnya, emas sempat mencapai rekor tertinggi US$ 4.381,21 pada 20 Oktober dan berfluktuasi di dekat level tersebut pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,2% ke level US$ 4.364,5 per ons.
Penurunan harga emas terjadi seiring rilis data indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) AS yang menunjukkan inflasi melambat lebih cepat dari perkiraan pasar. Data tersebut mengurangi kebutuhan investor untuk mencari perlindungan nilai dari lonjakan harga, yang selama ini menjadi salah satu pendorong utama reli emas.
“Inflasi turun lebih cepat dari yang diperkirakan, hal ini mengurangi daya tarik membeli asuransi terhadap inflasi. Emas telah menjadi lindung nilai utama terhadap inflasi, jadi pelemahannya cukup masuk akal setelah laporan CPI dirilis,” kata analis pasar di City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, dilansir CNBC.
Baca Juga
Data menunjukkan harga konsumen AS naik 2,7% secara tahunan pada November, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 3,1% yang diproyeksikan para ekonom dalam survei Reuters. Setelah data tersebut dirilis, kontrak berjangka suku bunga dana federal memperhitungkan sedikit peningkatan peluang bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada pertemuan Januari.
“Perlu diingat bahwa sebagian alasan mengapa harga emas melonjak tajam selama beberapa tahun terakhir adalah karena tingginya tingkat inflasi yang mengikis nilai mata uang fiat,” tambah Razaqzada.
Secara historis, aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah. Selain itu, emas juga dikenal luas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Meski terkoreksi tipis, prospek jangka menengah hingga panjang harga emas dinilai masih positif. “Saya memiliki target kenaikan di US$ 4.515,63 dan US$ 5.000 masih merupakan target valid,” kata Wakil Presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, Peter Grant.
Berbeda dengan emas, harga perak justru mengalami koreksi lebih dalam. Harga perak turun 1,5% menjadi US$ 65,3 per ons, dari rekor tertinggi US$ 66,88 yang dicapai pada sesi sebelumnya. Meski demikian, kinerja perak sepanjang tahun ini masih mengungguli emas.
Sejak awal tahun, harga perak tercatat melonjak 126% didorong permintaan investasi yang kuat serta kekhawatiran pasar terhadap potensi defisit pasokan global.
Sementara itu, logam mulia lain menunjukkan penguatan signifikan. Harga platinum naik 1,2% menjadi US$ 1.922,05 per ons, yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari 17 tahun. Paladium juga melonjak 3,7% ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun, yakni US$ 1.708,72 per ons.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Diam di Tempat, Pasar Tunggu Kabar Besar
“Gelombang kenaikan harga logam mulia kini telah menyebar dari perak ke platinum, harga platinum didukung oleh permintaan yang kuat dari China,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.
Kondisi ini mencerminkan bahwa meski emas menghadapi tekanan jangka pendek akibat meredanya inflasi AS, minat terhadap logam mulia secara keseluruhan masih tetap solid, terutama untuk komoditas yang didorong oleh faktor permintaan industri dan ketatnya pasokan global.

