Counterpoint: Pasar Smartphone Global Diproyeksi Susut 2,1% pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Lembaga riset Counterpoint Research memproyeksikan pasar smartphone global akan mengalami kontraksi pada 2026. Dalam laporan terbarunya, Counterpoint memperkirakan total pasar smartphone dunia menyusut sekitar 2,1% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan seluruh merek diperkirakan mencatat penurunan pengiriman.
Sebelumnya, Counterpoint masih melihat peluang pertumbuhan pada sejumlah produsen. Namun, revisi proyeksi terbaru menunjukkan tekanan biaya produksi dan pelemahan permintaan global membuat tidak ada satu pun merek yang mampu menghindari penurunan volume pengiriman.
Baca Juga
Apple Disebut Kebut Cari Penerus Tim Cook, Siapa Kandidatnya?
Segmen smartphone kelas bawah diprediksi menjadi yang paling terdampak. Counterpoint menilai segmen low-end akan menghadapi tekanan paling besar akibat lonjakan biaya material yang sulit dialihkan ke konsumen tanpa menggerus permintaan.
Kenaikan harga komponen menjadi faktor utama. Harga chip dan memori tercatat terus meningkat seiring melonjaknya permintaan dari industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Counterpoint mencatat biaya produksi ponsel kelas bawah telah naik sekitar 20–30% sejak awal tahun ini.
Tekanan biaya tersebut diperkirakan masih berlanjut. Harga memori berpotensi naik hingga 40% lagi hingga kuartal II-2026. Kondisi ini berisiko mendorong harga smartphone baru pada 2026 meningkat antara 8% hingga lebih dari 15% dibandingkan level yang sudah tinggi saat ini.
Baca Juga
Ekspansi Likuiditas Rupiah, BI Telah Lepas Rp 181,3 Triliun SRBI
Sejalan dengan itu, Counterpoint memperkirakan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) smartphone global akan naik sekitar 6,9% pada 2026. Kenaikan harga ini berpotensi semakin menekan daya beli konsumen, khususnya di segmen mass market.
Dalam kondisi tersebut, Counterpoint menilai Apple dan Samsung berada pada posisi relatif paling kuat untuk bertahan. Kedua produsen dinilai memiliki ruang penetapan harga dan loyalitas konsumen yang lebih baik dibandingkan kompetitor lainnya.
Baca Juga
Baru 17 Hari, BI Akui Insentif KLM untuk Penurunan Suku Bunga Perbankan Belum Optimal
Apple dan Samsung masing-masing diperkirakan mencatat penurunan pengiriman sekitar 2% pada 2026. Sementara itu, produsen dengan ruang manuver lebih terbatas, terutama OEM China, diproyeksikan terdampak lebih dalam.
Honor diperkirakan mengalami penurunan pengiriman lebih dari 3%. Sementara Vivo dan Oppo, yang sebelumnya diproyeksikan masih mencatat pertumbuhan pada 2026, kini juga diperkirakan akan mengalami kontraksi pengiriman akibat tekanan biaya dan melemahnya permintaan smartphone global.

