Damai Ukraina-Rusia Bikin Emas Kurang Bersinar
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas memangkas kenaikan pada perdagangan Senin (15/12/2025) setelah muncul kemajuan pembicaraan penting antara pejabat Amerika Serikat (AS) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy yang bertujuan mengakhiri perang. Perkembangan tersebut mengurangi minat emas sebagai aset lindung nilai, sementara pelaku pasar menahan transaksi menjelang rilis data pekerjaan utama AS.
Harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 4.309,82 per ons (sekitar Rp 68,9 juta per ons), setelah sebelumnya sempat melonjak lebih 1% pada awal sesi. Kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 0,2% di level US$ 4.335,2 per ons.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff mengatakan kemajuan perundingan perdamaian Rusia dan Ukraina meredam permintaan emas sebagai aset safe haven. Ia menambahkan tekanan juga datang dari aksi ambil untung dan likuidasi selama sepekan terakhir, ketika sebagian pedagang yang sebelumnya membeli kontrak berjangka mulai merealisasikan keuntungan.
Baca Juga
Harga Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 Kompak Naik pada 13 Desember 2025
“Kemajuan negosiasi membuat minat terhadap emas sebagai aset aman berkurang, ditambah tekanan dari aksi ambil untung,” ujar Wyckoff dilansir CNBC.
Utusan khusus AS Steve Witkoff mengatakan banyak kemajuan telah dicapai dalam pembicaraan Ukraina. Seorang pejabat AS juga menyebut kepada Reuters bahwa kedua pihak semakin mendekati titik temu untuk mempersempit perbedaan antara Rusia dan Ukraina.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data non-farm payrolls dan penjualan ritel AS yang dijadwalkan pada Selasa (16/12/2205) untuk mencari petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan Federal Reserve (TRhe Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 78% pada Januari 2026.
Emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai yang cenderung berkinerja baik pada periode ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Namun, meredanya ketegangan global kerap mengurangi daya tarik logam mulia tersebut dalam jangka pendek.
Di pasar logam lainnya, harga perak melonjak 2,6% menjadi US$ 63,61 per ons (sekitar Rp 1,02 juta per ons), setelah sempat menyentuh rekor tertinggi US$ 64,65 pada perdagangan Jumat. Harga perak masih berada dalam kisaran untuk menembus level US$ 65 per ons.
“Perak memimpin di antara logam mulia lainnya. Pada akhir tahun, harganya akan berada di atas US$ 65 dan saya memperkirakan US$ 70 pada awal kuartal pertama tahun depan,” kata ahli strategi pasar senior RJO Futures Bob Haberkorn.
Baca Juga
Sementara itu, harga platinum naik 2,5% menjadi US$ 1.788,55 per ons (sekitar Rp 28,6 juta per ons), level tertinggi sejak September 2011. Harga paladium juga menguat hampir 5% ke US$ 1.560,25 per ons, tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Produsen paladium terbesar di dunia asal Rusia, Nornickel, menyatakan dalam tinjauan pasar logam bahwa pasar paladium berpotensi mengalami defisit sebesar 0,2 juta ons tahun ini jika memperhitungkan permintaan investasi.

