Indonesia–India Perkuat Diversifikasi Dagang di Tengah Ketidakpastian Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketidakpastian ekonomi global akibat resiprokal tarif Amerika Serikat (AS) masih tinggi. Dengan kondisi perekonomian yang penuh tekanan, dibutuhkan diversifikasi perdagangan antarnegara. Sebuah proses yang kini dijajaki Indonesia dan India.
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty mengatakan, diversifikasi dalam bisnis sangat penting. Dia mengumpamakan proses diversifikasi lewat sebuah lelucon Irlandia tentang Si Kembar Murphy. Lelucon khas Irlandia ini menggambarkan Si Kembar Murphy yang keduanya selalu merasa paling benar tak pernah ingin disamakan satu sama lain, sehingga tidak boleh mengharapkan kebenaran atau keuntungan hanya pada satu Murphy saja.
“Kita harus diversifikasi, berjejaring, memiliki partner lebih banyak dari yang kita punya. Saya rasa ini adalah salah satu kunci di balik suksesnya sebuah usaha,” kata Sandeep saat menghadiri Gala Dinner India Chamber, di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Sandeep mengatakan India Chamber perlu mempererat sinergi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Kerja sama kedua asosiasi ini dapat ditingkatkan sehingga mengungkit perekonomian kedua negara.
“Dan satu hal yang saya tangkap adalah bagaimana pertumbuman ekonomi sebesar 1% di India dapat memengaruhi pertumbuhan PDB di Indonesia. Saya pikir, kita juga perlu melihat sebaliknya, bagaimana pertumbuhan PDB di Indonesia bisa memengaruhi pertumbuhan PDB India,” ujar dia.
Sandeep berharap banyak perusahaan Indonesia berekspansi di India, sebagaimana banyaknya perusahaan India melakukan ekspansi di Indonesia.
“Saya pikir, Investasi India, dan kewirausahaan India telah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian dan pertumbuhan Indonesia,” kata dia.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie mengatakan kerja sama Indonesia dan India mendapatkan momentum. Selain undangan khusus Presiden Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan saat Republic Day India, kedua negara juga tergabung dalam aliansi kerja sama negara-negara yang tergabung dalam BRICS.
Menurut Anin, sapaan akrabnya, banyak orang memiliki ekspektasi yang tinggi pada kerja sama Indonesia dan India. “Mereka menyebut para pemimpin kedua negara sebagai titik terang di kawasan Global South. Dan kita tahu bahwa antara kedua pemerintah, Indonesia dan India, siap bergerak dari niat baik politik menjadi aksi ekonomi,” ujar Anindya.
Anindya mengajak India Chamber bisa mewujudkan peningkatan hubungan perdagangan dan investasi. Apalagi hubungan perdagangan antara kedua negara telah berjalan berabad-abad.
Bagi Anindya, Indonesia menawarkan banyak kesempatan. Dengan kesetiaan para pengusaha India yang ada di Indonesia, dia yakin dapat merancang dan membangun Indonesia.
Sepakat dengan Sandeep, Anindya juga menyampaikan harapannya bisa membawa pengusaha asal Indonesia berinvestasi di India. “Kita perlu memanfaatkan momentum besar yang sudah kita miliki dan saya setuju dengan itu,” ujar dia.
Kerja sama di bidang teknologi digital
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengungkapkan, India menjadi salah satu rujukan ekonomi digital paling dinamis di dunia. Menurut data Bank Dunia, India memproses layanan pembayaran digital yang lebih besar ketimbang kombinasi Amerika Serikat (AS), China, dan Uni Eropa.
“Melalui UPI [Unified Payments Interface] India yang diproyeksikan akan menangani 12 miliar transaksi per bulan pada 2035, juga menjadi pemimpin global dalam infrastruktur publik digital lewat Aadhaar, sebagai sistem identitas nasional berbasis biometrik dan merangkum lebih dari 1,35 miliar orang (pengguna)” kata Nezar.
Nezar mengatakan model infrastruktur digital ini menjadi rujukan yang diapodsi atau dipelajari lebih dari 50 negara.
Bagi Nezar, industri layanan informasi teknologi dan digital India terus tumbuh pesat. Bulan lalu, menurut data yang diperolehnya, sektor tersebut menghasilkan pendapatan sebesar US$ 254 miliar dan mempekerjakan lebih dari 5,4 juta profesional teknologi. India juga menambahkan lebih dari 800.000 pekerja teknologi, dalam tiga tahun terakhir.
“Angka-angka ini menggambarkan sebuah transformasi yang didorong oleh ambisi, inovasi, dan teknologi,” kata dia.
Sementara itu, Indonesia dengan 215 juta pengguna internet, ekonomi digitalnya diproyeksikan bisa mencapai nilai US$ 360 miliar pada 2030. Dari data kajian Google dan Temasek tersebut, Indonesia juga dianggap menjadi salah satu negara dengan adopsi akal imitiasi (AI) tercepat di Asia Tenggara.
Berikutnya Nezar menyebut kolaborasi Indonesia dan India dapat memperdalam pengembangan bidang teknologi dan digital. “Inilah mengapa kolaborasi bukan lagi pilihan, melainkan strategi,” kata dia.
Selain AI, Nezar berharap kedua negara bisa meningkatkan sektor digital publik dan ketersediaan rantai pasok semikonduktor. Di sisi lain, kerja sama juga dapat membuka kesempatan pengembangan talenta di bidang teknologi dan digital kedua negara.
“Dan terakhir, tentang keamanan siber dan tata kelola data, (diharapkan kedua negara, red) membangun sistem yang tangguh untuk proses digitalisasi,” ujar dia.
Sebuah tantangan bersama
Di sisi lain, kondisi dan situasi global yang tak pasti tetap menjadi 'concern' bagi keberlangsungan kerja sama ekonomi Indonesia dan India. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengemukakan, dalam rezim perang tarif resiprokal, tantangan utama bagi Indonesia dan India bukan hanya kenaikan tarif itu sendiri, tetapi efek ikutannya berupa ketidakpastian usaha, biaya perdagangan yang naik, dan melemahnya permintaan global. Kondisi ini pada akhirnya bakal menekan investasi serta ekspor kedua negara.
“Pelajaran pentingnya, guncangan tarif biasanya paling cepat memukul investasi dan ekspor, lalu merembet ke konsumsi dan neraca transaksi berjalan. Bahkan ketika tarif resiprokal lebih rendah, dampaknya tetap cenderung negatif pada pertumbuhan, terutama melalui pelemahan investasi dan ekspor,” ujar Josua.
Oleh karena itu, kata Josua, cara Indonesia-India menghadapi tantangan ini perlu bertumpu pada pengurangan ketidakpastian lewat cara mempertegas aturan dan percepatan kesepakatan dagang. Dengan kejelasan dari sisi aturan, terbukti memperbaiki prospek investasi dan menjaga inflasi tetap terkendali ketika tekanan tarif mereda.
Dari sisi hubungan bilateral, perdagangan Indonesia–India sudah meningkat dalam jangka panjang, dan Indonesia konsisten mencatatkan surplus. Sehingga ke depan Josua memperkirakan isu keseimbangan dagang bisa semakin menonjol dari hubungan perdagangan dua negara ini, khususnya ketika rezim tarif timbal balik mulai mendorong tiap negara bersikap lebih protektif.
Josua mencatat nilai perdagangan dua negara sempat mencapai sekitar US$ 32,7 miliar pada 2022 dan kemudian turun ke sekitar US$ 26,0 miliar pada 2024, dengan ekspor Indonesia ke India berada di kisaran US$ 14,7 miliar pada 2024, dan sekitar US$ 10,5 miliar pada September 2025.
Namun demikian Josua menilai struktur hubungna perdagangan kedua negara relatif saling melengkapi. Ekspor Indonesia ke India didominasi produk mineral terutama batubara, produk pertanian, dan produk logam. Sementara itu, ekspor India ke Indonesia banyak berupa produk mineral terutama minyak bumi, kendaraan, serta produk pertanian.
“Ini berarti, di tengah perang tarif, strategi paling rasional adalah memperdalam kemitraan yang menurunkan biaya transaksi dan memperluas ragam barang bernilai tambah, agar hubungan dagang tidak terlalu bergantung pada beberapa komoditas yang rentan terhadap siklus harga dan kebijakan tarif,” kata dia.
Agar lebih tangguh, Indonesia dan India perlu menggeser fokus dari sekadar jual-beli komoditas ke pembentukan rantai produksi bersama, misalnya lewat kerja sama industri pengolahan, standardisasi mutu, dan kemudahan kepabeanan sehingga arus barang tidak mudah tersendat saat tarif berubah.
Bagi Indonesia, memperdalam akses pasar ke India tetap penting karena kinerja ekonomi India masih mencatatkan angka-angka positif. Walaupun tidak sebesar mitra utama lain, kenaikan pertumbuhan India tetap memberi tambahan dorongan pada pertumbuhan Indonesia dan memperbaiki neraca transaksi berjalan. Sehingga penguatan hubungan dagang-investasi dengan India bisa menjadi bantalan ketika pasar global melemah.
Bagi India, menjaga kestabilan pasokan energi dan bahan baku dari Indonesia tetap krusial untuk menahan biaya produksi domestik. Langkah ini dianggap mampu mengkompensasi kenaikan tarif di tempat lain, sehingga tidak ikut memberikan tekanan pada harga dan menggerus daya saing industrinya.
India juga dapat menyetarakan nilai perdagangannya dengan Indonesia, kuncinya adalah memperbesar ekspor India ke Indonesia dan merebut kembali pangsa pasar yang sempat menurun. Data menunjukkan pada 2019–2024, India cenderung kehilangan pangsa di pasar impor Indonesia.
"Ini dapat ditempuh dengan memperluas jenis barang yang relevan dengan kebutuhan Indonesia, memperbaiki keterhubungan logistik dan kepatuhan standar, serta membangun kemitraan distribusi dengan pelaku usaha Indonesia agar produk India lebih kompetitif,” kata dia.
Di saat yang sama, India dapat menggunakan jalur investasi langsung sebagai pengungkit. Investasi India ke Indonesia tercatat membaik pascapandemi dan banyak masuk ke sektor jasa serta industri, yang bisa diarahkan untuk membangun basis produksi bersama sehingga impor Indonesia dari entitas India meningkat melalui mesin, komponen, dan bahan penolong, sementara Indonesia tetap memasok input strategis ke India.
Pendekatan ini lebih berkelanjutan daripada sekadar menekan impor dari Indonesia, karena membantu menyeimbangkan arus dagang sambil memperkuat keterikatan industri kedua negara ketika rezim tarif timbal balik membuat pasar global semakin terfragmentasi.

