Transformasi Manajemen Risiko Dorong Kinerja Pertamina International Shipping di Logistik Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Manajemen risiko menjadi elemen penting dalam menjaga kelancaran operasional dan keberlanjutan bisnis di perusahaan pengangkutan dan logistik energi, seperti PT Pertamina International Shipping, subholding integrated marine logistic Pertamina (Persero). Perusahaan menghadapi dinamika risiko yang kompleks, sehingga pendekatan mitigasi terstruktur diperlukan untuk memastikan stabilitas operasional dan pertumbuhan jangka panjang.
PT Pertamina International Shipping (PIS), anak usaha Pertamina yang fokus pada pengelolaan armada dan logistik energi, mengembangkan strategi berbasis identifikasi dan penilaian risiko untuk seluruh proses bisnis, baik operasional maupun proyek investasi.
"Perusahaan telah melakukan transformasi manajemen risiko dari fungsi pendukung menjadi penggerak strategis melalui penguatan tata kelola, structural oversight, business continuity, pemanfaatan teknologi, digitalisasi, dan penguatan budaya risiko," kata VP Risk Strategy & Governance PT Pertamina International Shipping (PIS), Nico Dhamora dalam acara E2S Energy Update 2026 bertajuk "Anticipating Business Risk: Secure Growth in the Energy and Mineral Resources Sector" di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Nico menekankan pentingnya membangun budaya organisasi yang adaptif. Dalam aspek budaya, yang ingin ditekankan adalah pentingnya menumbuhkan kesadaran untuk dapat mengambil tindakan secara cepat dan akurat dalam mengendalikan krisis dan risiko disrupsi terhadap keberlangsungan bisnis yang sering kali situasi tersebut justru menimbulkan kepanikan.
Baca Juga
PIS Bantu Masyarakat Terdampak Banjir Sumut, Sumbar, dan Aceh
"Oleh karena itu, diperlukan budaya organisasi yang memastikan bahwa setiap fungsi secara proaktif berperan dalam rangka pencegahan dan penanganan insiden secara cepat, tepat, dan terstruktur,” kata Nico.
Ia menegaskan bahwa karakteristik bisnis PIS berbeda dibanding perusahaan lain karena bergantung pada mobilitas dan keandalan armada laut. Menurut dia, digitalisasi di PIS tidak hanya berorientasi pada pengolahan data, tetapi juga berperan sebagai sistem peringatan dini yang membantu proses pengambilan keputusan.
“Pemanfaatan digitalisasi di PIS tidak hanya berfungsi untuk menampilkan data operasional, tetapi juga berperan sebagai early warning system yang memberikan sinyal dini sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan," kata dia.
Dengan armada yang beroperasi baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia, kemampuan untuk memantau secara akurat posisi kapal serta memahami kondisi rekan-rekan di laut menjadi sangat krusial. "Melalui sistem digital yang terintegrasi, pengambilan keputusan dapat dilakukan berbasis risiko dan bukan semata-mata intuisi,” jelas Nico.
Upaya tersebut mendapat pengakuan dalam bentuk penghargaan. PIS meraih E2S Award untuk kategori Best Risk Management for Marine Logistics. Penghargaan ini diberikan karena perusahaan dinilai menempatkan manajemen risiko sebagai komponen utama dalam operasional bisnisnya sehingga menjaga konsistensi layanan dan kinerja.
Penguatan manajemen risiko menurut Nico tidak hanya bergantung pada upaya internal, tetapi kolaborasi eksternal. Perusahaan terus menjalin komunikasi dengan regulator, pemangku kepentingan, mitra pemasok, dan klien untuk memastikan tahapan operasional memenuhi standar nasional maupun internasional.
Baca Juga
ESDM Soroti Pentingnya Manajemen Risiko di Industri Migas untuk Keberlanjutan Bisnis
“Fungsi manajemen risiko harus secara proaktif membangun koordinasi dan komunikasi dua arah dengan seluruh pemangku kepentingan. Efisiensi, baik dalam aspek operasional maupun proyek investasi, hanya dapat dicapai apabila terdapat kolaborasi yang solid dan komunikasi yang efektif. Melalui pendekatan tersebut, organisasi dapat memastikan bahwa setiap keputusan diambil dengan tepat,” ungkap Nico.
Nico menjelaskan bahwa pengelolaan risiko berperan strategis dalam pencapaian target perusahaan melalui mitigasi komprehensif. “Kita harus memastikan bahwa seluruh risk event telah diidentifikasi dengan jelas sehingga tidak menimbulkan loss atau kerugian baik dari aspek safety, bisnis, dan reputasi. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa proses bisnis yang dijalankan tidak menciptakan risiko baru bagi organisasi,” ujar Nico.

