'Profit Taking' Bikin Harga Emas Turun dari Level Terteinggi 6 Minggu
Poin Penting
| ● | Harga emas terkoreksi akibat aksi ambil untung. |
| ● | Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap kuat. |
| ● | Bank sentral global meningkatkan pembelian emas hingga 53 ton pada Oktober. |
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada Selasa (2/12/2025) setelah investor merealisasikan keuntungan di tengah reli hingga level tertinggi enam minggu pada sesi sebelumnya. Koreksi ini terjadi ketika pasar masih memantau ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang memberikan dukungan terhadap harga logam mulia. Kondisi tersebut menempatkan data ekonomi Amerika Serikat pekan ini sebagai penentu arah sentimen pasar.
Harga emas spot turun 1,5% menjadi US$ 4.168,23 per ons. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari juga melemah 1,7% menjadi US$ 4.203 per ons, mengikuti pergerakan di pasar global.
Penurunan tersebut terjadi ketika pasar merespons aktivitas pengambilan untung setelah reli yang cukup kuat. “Mungkin ini hanya sedikit aksi ambil untung... fokus terbesar pasar akhir-akhir ini adalah ekspektasi penurunan suku bunga, dan ekspektasi tersebut masih cukup stabil,” kata Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior Zaner Metals Peter Grant dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Menguat, Antam (ANTM) Ikut Naik meski Data Ekonomi Minim
Ia menambahkan bahwa pola pergerakan saat ini tetap konstruktif untuk jangka menengah. “Kita berada dalam pola kelanjutan yang pada akhirnya akan mengarah pada kenaikan harga, dan saya prediksi harga emas US$ 5.000 di awal tahun baru,” kata dia.
Ekspektasi tersebut terbentuk setelah data ekonomi terbaru menunjukkan pelemahan bertahap aktivitas ekonomi AS. Sinyal dovish yang disampaikan para pembuat kebijakan Federal Reserve pada pertemuan terakhir semakin memperkuat perkiraan pasar mengenai pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan. Para pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 87% atas langkah tersebut berdasarkan perdagangan berjangka suku bunga.
Pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) bulan November yang akan dirilis Rabu (3/12/2025), serta Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (personal consumer expenditure/PCE) September yang sempat tertunda dan dijadwalkan rilis Jumat (5/12/2205).
PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi rujukan The Fed. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena tidak menghasilkan imbal hasil.
Sementara itu, pembelian emas oleh bank sentral terus meningkat. Menurut Dewan Emas Dunia, pembelian emas global mencapai 53 ton pada Oktober, naik 36% secara bulanan dan mencatat permintaan bersih terbesar sejak awal 2025. Lonjakan pembelian menunjukkan kuatnya minat institusi keuangan dalam diversifikasi cadangan.
Baca Juga
Di pasar logam lain, harga perak turun 1,1% menjadi US$ 57,30 per ons dari rekor tertinggi US$ 58,83 pada Senin (1/12/2025). Harga perak telah melonjak lebih dari 100% sejak awal tahun, mencerminkan ketatnya pasokan di pasar.
Harga platinum turun 2,5% menjadi US$ 1.616,75 per ons, sementara paladium naik 1,6% menjadi US$ 1.446,61 per ons mengikuti dinamika permintaan industri.

