Hybrid Jadi Pilihan, Elektrifikasi Alat Berat Belum Masuk Tahap Masif
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pelaku industri alat berat di Indonesia siap mendukung program pemerintah terkait elektrifikasi dalam rangka net zero emission 2060. Meski demikian, industri alat berat belum memasuki fase operasional penuh untuk penggunaan teknologi listrik, meski arah kebijakan energi nasional mendorong elektrifikasi di berbagai sektor. Para produsen menilai kesiapan infrastruktur dan aturan teknis menjadi faktor penentu sebelum investasi besar dapat dieksekusi di lapangan.
Ketua IV Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Immawan Priyambudi menjelaskan bahwa pergeseran menuju alat berat listrik tidak bisa disamakan dengan perkembangan kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) di sektor otomotif.
Ia menilai diperlukan dukungan infrastruktur charging yang kuat dan aman di area kerja yang umumnya berada di lokasi terpencil. “Kita tidak bisa membayangkan desain itu kita harus bisa menyiapkan charger yang cukup banyak untuk alat-alat besar yang juga beroperasi di sana,” kata Immawan Priyambudi kepada Investortrust.id dalam Bincang PERSpektif bertema “Strategi Efisiensi untuk Bisnis Berkelanjutan” di Jakarta, Selasa (25/11/2025)
Tantangan ini membuat implementasi full electric masih sangat terbatas dan belum menunjukkan produktivitas yang menyamai unit diesel. Ia menjelaskan bahwa satu unit truk listrik membutuhkan dua unit sejenis untuk menyamai produktivitas alat berat diesel. Selain faktor baterai dan durasi pengisian, perbedaan sistem perawatan juga memengaruhi efisiensi operasional. “Arah ke sana tetap ada, tapi kita masih menunggu kebijakan pemerintah yang lebih konkret,” kata Immawan.
Baca Juga
Trakindo Dorong Efisiensi Industri Alat Berat Lewat Teknologi dan Pengelolaan Aset
Di beberapa konsesi tambang di Kalimantan, sudah ada upaya awal untuk meminta kontraktor membeli unit elektrik. Namun, pendekatan itu belum dijalankan secara masif. Immawan menyebut asosiasi turut memberikan masukan kepada pemerintah mengenai keunggulan dan keterbatasan teknologi alat berat listrik. Menurutnya, pemerintah perlu hadir bukan hanya melalui aturan, tetapi fasilitas pendukung yang memungkinkan industri mempertahankan produktivitas di tengah agenda dekarbonisasi.
Ia menegaskan bahwa target operasi hijau dan zero net emissions tetap menjadi arah industri. Namun elemen produktivitas tidak boleh terkorbankan karena sektor alat berat berhubungan langsung dengan proses produksi komoditas. Menurut Immawan, industri membutuhkan dukungan pemerintah berupa insentif nyata dan aturan yang jelas sebelum beralih lebih cepat ke elektrifikasi.
Hybrid Mulai Diperkenalkan, Tapi Belum Masif
Immawan mengatakan, pemain global yang telah lama menguasai industri alat berat memilih langkah lebih bertahap melalui teknologi hybrid dibanding langsung beralih ke full electric.
Immawan mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun produk alat berat listrik yang benar-benar dipasarkan untuk operasional masif di lapangan. Beberapa produsen baru memperkenalkan prototipe atau unit demonstratif, tetapi belum tersedia model komersial yang siap digunakan secara luas.
Menurut Immawan, banyak pelaku industri memilih mengadopsi solusi hybrid terlebih dahulu. "Elektrik ini bukan hanya bicara green operation itu sendiri, tetapi lebih kepada infrastructure, sehingga kesiapan ekosistem menjadi faktor utama," kata dia.
Pasar Alat Berat Masih Tumbuh
Dari sisi pasar, Immawan menyebut permintaan alat berat masih kuat pada paruh pertama 2025. Ia mencatat pertumbuhan penjualan unit baru mencapai sekitar 30% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun memasuki Juli, terjadi penurunan permintaan akibat koreksi harga komoditas dan penundaan sejumlah proyek. Ia memperkirakan total kebutuhan industri alat berat sepanjang tahun berada di kisaran 23.000 unit.
Untuk tahun depan, Immawan melihat industri tidak akan mencatat pertumbuhan tinggi karena situasi ekonomi dan politik. Meski begitu, ia menilai masih ada peluang dari proyek strategis pemerintah, termasuk pembangunan infrastruktur dan kebutuhan alat berat untuk kawasan industri baru. "Potensi pertumbuhan sekitar 5% masih dianggap realistis," kata dia.
Baca Juga
Selain elektrifikasi, industri alat berat juga bersiap menghadapi penerapan B50 pada semester II 2026 datri saat ini B40. Director of Operations PT Ksatria Mitra Kontraktor Indonesia (KMKI) Bhondan Suryo Bhroto mengatakan, penyesuaian yang diperlukan relatif kecil. “Itu kan (alat tambahannya) bisa kita taruh di filter kita, enggak terlalu mahal,” ujarnya.
Menurutnya, tambahan filter bisa dipasangkan di unit alat berat maupun di tangki pengisian sebelum bahan bakar masuk ke mesin. Jumlah tahap filtrasi bergantung pada kualitas pasokan, tetapi pada banyak proyek cukup menggunakan satu tambahan filter.

