Freeport Ungkap Targetkan Pemulihan Tambang Grasberg hingga Revisi Turun RKAB 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Freeport Indonesia (PTFI) menyiapkan agenda strategis untuk memulihkan operasional tambang dan meningkatkan kapasitas hilirisasi pada 2026. Fokus utama adalah pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Caving (GBC) yang terdampak insiden luncuran material basah pada 8 September 2025.
Direktur Utama PTFI Tony Wenas menjelaskan, sejak insiden terjadi, perusahaan memprioritaskan pencarian tujuh karyawan yang terperangkap. Seluruh korban berhasil ditemukan pada awal Oktober 2025, sebelum perusahaan melanjutkan investigasi bersama Inspektur Tambang, Kementerian ESDM, dan para ahli.
Baca Juga
Lampaui Target, Freeport Setor Kontribusi US$ 4,1 Miliar ke Negara
“Saat ini, kami memasuki tahap pembersihan material di GBC pada November–Desember, sekaligus menyiapkan perbaikan infrastruktur yang ikut terdampak,” ujar Tony dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (24/11/2025).
Beberapa fasilitas terdampak memerlukan waktu pemulihan sebelum aktivitas dapat dimulai kembali. PTFI menargetkan operasi GBC kembali berjalan pada triwulan I-2026 melalui pembukaan area secara bertahap sesuai verifikasi keamanan.
Di sisi hilirisasi, Tony menyampaikan bahwa ramp up smelter baru di Gresik hingga Agustus 2025 telah mencapai sekitar 70%. Namun smelter tersebut masih belum dapat berproduksi penuh hingga akhir tahun. Produksi tambang hulu yang saat ini baru mencapai 30% dialokasikan sepenuhnya ke PT Smelting, smelter lama yang bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang. Smelter baru dijadwalkan kembali berproduksi pada triwulan II 2026.
“Karena perjanjian operasi mengharuskan kami memprioritaskan smelter dalam negeri yang sudah berjalan, konsentrat saat ini semuanya dibawa ke PT Smelting,” jelas Tony.
Baca Juga
Bahlil Targetkan Tambang GBC Freeport Kembali Beroperasi Maret-April 2026
Menjelang tahun operasional berikutnya, PTFI telah menyerahkan revisi RKAB 2026 kepada Kementerian ESDM pada pertengahan November 2025. Perusahaan menurunkan target produksi sebagai dampak lanjutan dari insiden GBC.
“Kalau di RKAB yang lama, rencana produksi 700.000 ton katoda tembaga, di 2026 hanya akan memproduksi 478.000 ton atau 68%. Untuk emas, dari rencana produksi 45 ton, RKAB baru hanya menetapkan 26 ton. Semuanya akan dikonsumsi oleh PT Antam dan tidak ada rencana ekspor emas,” ujar Tony.

