Terungkap! 40 Ribu Gerai Starbucks Dunia Pakai Kopi asal Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Starbucks Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat dukungan bagi petani kopi nasional melalui perluasan program pembinaan dari hulu hingga hilir. Upaya ini melanjutkan keberhasilan Sumatra yang kini menjadi salah satu pemasok utama kopi ke lebih dari 40 ribu gerai Starbucks di berbagai belahan dunia.
Chief Operating Officer Starbucks Indonesia, Liryawati, mengungkapkan bahwa berbagai wilayah lain seperti Jawa Barat, Aceh, dan Bali kini sedang disiapkan untuk mengikuti jejak Sumatra.
“Harapannya bukan hanya Sumatra. Kami sedang mendidik wilayah lain agar mereka bisa naik skala dan menjadi pemasok global,” katanya saat ditemui di Jakarta Creative Hub, kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin (24/11/2025).
Menurut Liryawati, Starbucks telah mengoperasikan Farmer Support Center di Sumatra yang memberikan pendampingan teknis mulai dari pemilihan bibit, teknik pencucian, perawatan tanaman, hingga proses pascapanen. Pelatihan ini terbuka bagi semua petani kopi, tidak terbatas pada petani yang bekerja sama langsung dengan Starbucks.
“Ini untuk masa depan kopi Indonesia. Kalau budayanya tidak kuat, industri tidak bisa bertahan. Kita bagikan semua know-how dari seed to cup,” terangnya.
Baca Juga
MAP Boga (MAPB) Targetkan Buka 40 Gerai Starbucks di 2025, Fokus di Wilayah Ini
Ia menjelaskan bahwa hubungan bisnis antara petani kopi Indonesia dan Starbucks sebenarnya telah masuk ke level Business to Business (B2B), meski prosesnya masih berkembang. Biji kopi dari Sumatra telah dijual ke Starbucks global, sementara beberapa wilayah lain sedang dibina untuk mencapai kualitas dan volume yang sama.
“Sumatra Coffee kita dinikmati di Amerika, Eropa, Timur Tengah, di mana-mana. Itu bukti potensi Indonesia luar biasa,” katanya.
Meski fokus pada petani, Starbucks menilai pembinaan UMKM dan petani saling terkait dalam rantai kopi nasional. Pelaku UMKM yang dibina dalam program baru tahun depan akan mendapat pemahaman tentang kualitas kopi dari hulu hingga penyeduhan, sehingga mereka bisa menyajikan produk secara lebih profesional.
“Kalau seluruh ekosistem bergerak—petani, UMKM, pelaku besar—Indonesia bisa punya posisi yang lebih kuat di peta kopi dunia,” tuturnya.

