Meta Minat Dagang Listrik, Berkah Bagi Industri Data Center Indonesia?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Meta dilaporkan sedang mengincar bisnis perdagangan listrik untuk mempercepat pembangunan pembangkit baru yang diperlukan demi menopang pusat data-nya. Perusahaan disebut sedang mengajukan izin federal agar bisa membeli listrik jangka panjang dan menjual kembali sebagian pasokannya di pasar grosir.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (24/11/2025), langkah ini akan memberi fleksibilitas finansial sekaligus mengurangi risiko bagi Meta. Dengan kemampuan menjual daya berlebih, perusahaan disebut dapat membuat komitmen terhadap pembangkit baru tanpa terbebani beban jangka pendek semata.
Head of Global Energy Meta Urvi Parekh menyebut bahwa konsumen listrik bersedia menaruh komitmen nyata. Tanpa dukungan pembeli besar seperti Meta, ekspansi pembangkit baru dianggap akan berjalan terlalu lambat.
Strategi tersebut mencerminkan kebutuhan energi raksasa teknologi dalam mengoperasikan data center yang terus tumbuh, terutama seiring adopsi AI yang makin masif. Faktanya, sejumlah raksasa teknologi masih membutuhkan pasokan data center baru.
Potensi dan tantangan bisnis data center di Indonesia
Sementara itu, di Indonesia, pertumbuhan bisnis pusat data diketahui membebani pasokan listrik nasional. Mengutip laporan EMBER, konsumsi listrik data center di Tanah Air diproyeksi melonjak dari 6,7 TWh (2024) menjadi 26 TWh pada 2030 atau naik hampir 400%.
Sementara itu, di Indonesia, pertumbuhan bisnis pusat data diketahui membebani pasokan listrik nasional. Mengutip laporan EMBER, konsumsi listrik data center di Tanah Air diproyeksi melonjak dari 6,7 TWh (2024) menjadi 26 TWh pada 2030 atau naik hampir 400%.
Peningkatan permintaan ini menimbulkan tekanan besar pada sistem kelistrikan Indonesia, yang saat ini masih banyak bergantung pada pembangkit fosil. Pada konteks lokal, PLN sebenarnya sudah membuka peluang untuk data center memakai listrik dari sumber terbarukan. Pada 2023, perusahaan plat merah itu menyatakan kesiapan memasok listrik EBT untuk fasilitas pusat data di seluruh Indonesia.
Meski begitu, transformasi ke energi bersih tetap menjadi tantangan besar. IESR menyoroti pentingnya pasokan energi yang andal dan ramah lingkungan agar operasi data center di Indonesia bisa lebih berkelanjutan.
Meta sendiri telah bergerak ke arah energi hijau. Perusahaan menjalin kerja sama dengan AES untuk mendukung pasokan 650 MW tenaga surya bagi pusat datanya. Sebelumnya, Meta juga membidik pemanfaatan panas bumi melalui kemitraan dengan Sage Geosystems.
Langkah Meta ini bisa menjadi sinyal bagi Indonesia bahwa kebutuhan listrik data center masa depan akan semakin besar dan mungkin mendorong dukungan pembangunan pembangkit baru berbasis EBT. Di sisi lain, ini juga bisa menjadi peluang investasi dari perusahaan global-lokal.

