Pemerintah Ungkap Kebutuhan Listrik untuk Data Center Capai 5,2 GW di 2034
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kebutuhan listrik untuk operasional data center mencapai 5,226 gigawatt (GW) pada tahun 2034 mendatang.
Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Jisman Hutajulu tidak memungkiri, untuk operasional data center dibutuhkan daya listrik dengan kapasitas yang besar dengan tarif yang murah. Untuk tahun 2025 ini, kebutuhan listrik data center tercatat mencapai 1,098 GW.
“Kebutuhan listrik untuk data center ini besar sekali. Hampir di 2025 ini catatan kami lebih dari 1 GW,” ucap Jisman dalam acara Electricity Connect 2025 di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Baca Juga
Lebih lanjut Jisman menjelaskan, untuk pemenuhan kebutuhan listrik data center ini bakal dilayani oleh PLN secara holding, PLN Batam, dan juga wilayah usaha (wilus) yang lainnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM yang dipaparkan Jisman, kebutuhan listrik untuk data center ini bakal terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2026 kebutuhan listrik data center diperkirakan mencapai 2,122 GW, tahun 2027 (2,735 GW), tahun 2028 (3,464 GW), tahun 2029 (3,680 GW), tahun 2030 (4,694 GW), tahun 2031 (4,753 GW), tahun 2032 (4,974 GW), tahun 2033 (5,226 GW), dan tahun 2034 (5,226 GW).
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Eneri Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut, kebutuhan listrik untuk data center ini bisa disupport lewat pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT).
Menurut dia, harga listrik EBT pun kini sudah tidak terlalu mahal sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai energi penyokong data center. “PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) sudah mulai turun harga,” ujar Eniya saat dihubungi investortrust.id, Rabu (19/11/2025).

