Ancaman Keamanan Eksekutif Perusahaan Meningkat, G4S Berikan Solusi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - World Security Report 2025 yang diprakarsai oleh Allied Universal® bersama bisnis internasionalnya, G4S mengungkapkan bahwa ketidakstabilan ekonomi kini menjadi tantangan keamanan terbesar bagi dunia bisnis di Indonesia.
Managing Director PT G4S Security Service (G4S Indonesia) Achmad Pratama Kosasih mengatakan, berdasarkan temuan tersebut, sebanyak 71% eksekutif keamanan di Indonesia menyebut kondisi ekonomi sebagai ancaman utama, paling tinggi di dunia.
Hal itu diungkapkan langsung oleh Rama panggilan karib Achmad dalam wawancara khusus bersama Investortrust.id bertajuk "Menghadapi Gelombang Disinformasi dan Ketidakpastian: Tantangan Baru Keamanan bagi Dunia Usaha Indonesia” di Kantor G4S Indonesia, Kawasan Arcadia Green Park, Jakarta, Kamis (19/11/2025).
"Jadi ya 71%-an yang menyatakan ketidakstabilan ekonomi menjadi salah satunya, kalau dilihat ketidakstabilan ekonomi itu kan sebenarnya karena inflasi ataupun kenaikan harga, secara makro lah ya, secara besar, juga kompetisi atau apapun, impactnya dari seseorang atau person ya, inflasi, harga naik, ataupun pekerjaan yang mungkin terkadang menjadi risiko," ujar Rama.
Laporan ini didasarkan pada hasil survei online anonim yang diisi oleh 2.352 Chief Security Officer atau mereka yang menjabat posisi setara di perusahaan menengah dan besar berskala global yang tersebar di 31 negara, dengan total pendapatan tahunan lebih dari US$ 25 triliun. Penelitian dilakukan antara 21 Maret hingga 16 April 2025.
Rama menjelaskan, ketidakstabilan ekonomi tersebut dapat menyebabkan keresahan sosial dan ketidakpuasan masyarakat, yang berpotensi meningkatkan ancaman terhadap eksekutif perusahaan. Terlebih, kata Rama, era digitalisasi mempercepat penyebaran informasi, termasuk misinformasi dan disinformasi, yang dapat memperburuk situasi.
"Dari keresahan yang mungkin hanya awalnya resah, lama-lama bisa jadi tindak kriminal atau kerawanan lainnya, dan diamplifikasi oleh misinformasi dan disinformasi," ungkap Rama.
Lebih lanjut, Rama menyebut, eksekutif perusahaan dapat menjadi target ancaman karena mereka dianggap sebagai simbol yang bertanggung jawab atas karyawan, masyarakat, dan ekonomi di daerah operasional mereka.
"Dan itu berdampak kepada mereka, berpotensi," ucap Rama.
Di sisi lain, 62% melaporkan peningkatan ancaman kekerasan terhadap eksekutif perusahaan dalam dua tahun terakhir, jauh di atas rata-rata Asia Pasifik. Menurut Rama, kampanye misinformasi dan keresahan publik ikut memperburuk situasi, menciptakan lanskap risiko yang semakin kompleks bagi perusahaan.
Foto: Investortrust/Taufiq Al Hakim
Rama menambahkan, ketidakpuasan individu terhadap perusahaan dapat memicu tindakan yang tidak diinginkan, baik dari internal maupun eksternal. Dari internal, motifnya seringkali terkait dengan keuangan, seperti ketidakpuasan atas keputusan perusahaan yang berdampak pada keuangan karyawan.
"Impact-nya adalah mungkin dia menyalahgunakan prosedur, misalkan mempublikasikan sesuatu hal yang sifatnya salah sebenarnya, karena motif moral juga ya sebenarnya bisa dikatakan," jelas Rama.
Sementara itu, dari eksternal, misinformasi dapat menyebar dengan cepat dan memicu protes atau tindakan lainnya. Contohnya adalah isu tentang limbah yang tidak tepat, yang dapat dipelintir dan menyebabkan keresahan sosial di daerah-daerah operasional industri.
"Yang impact-nya jadinya berpicu kepada protes ataupun hal-hal lain," terang Rama.
Sejalan dengan hal tersebut, Rama membeberkan bahwa ancaman terhadap eksekutif perusahaan semakin meningkat. Oleh karena itu, perencanaan pencegahan menjadi sangat penting.
Sebanyak 60% perusahaan telah menganggarkan budget untuk plan pencegahan terhadap eksekutif, termasuk protection dan early detection melalui pemantauan berita. Selain itu, perbaikan SOP juga menjadi fokus penting dalam meningkatkan keamanan. "Jadi security juga harus dilihat, dari sisi gimana SOP berjalan," beber Rama.
Baca Juga
Indosat Business Rilis Vision AI, Tawarkan Kamera Cerdas untuk Efisiensi dan Keamanan Bisnis
Foto: Investortrust/Taufiq Al Hakim
Rama menuturkan, perusahaan mulai menyadari bahwa keamanan bagi CEO bukan hanya sekedar fasilitas, tetapi menjadi keharusan karena potensi ancaman yang tinggi. Ini menjadi tren yang akan terus berkembang di masa depan.
"Kadang-kadang kita menganggap security buat CEO itu kan kayak fasilitas, tapi sepertinya ini menjadi tren yang akan menjadi keharusan, karena memang potensinya akan tinggi," tutur Rama.
Sementara itu, G4S sendiri menawarkan berbagai layanan keamanan untuk melindungi eksekutif dan perusahaan. Salah satu layanan unggulan mereka adalah Close Personal Protection (CPP), yaitu pengamanan pribadi untuk eksekutif yang membutuhkan perlindungan ekstra.
Selain solusi itu, G4S juga memiliki SROC (Security Risk Operation Center), sebuah pusat operasi keamanan 24 jam yang memantau sistem keamanan dan memberikan respons cepat dalam keadaan darurat. Contohnya, saat terjadi protes atau kerusuhan, SROC dapat memantau situasi dan memberikan informasi terkini kepada klien.
Dalam hal ini, mereka juga dapat memberikan travel alert untuk daerah tertentu dan memberikan informasi rute alternatif jika terjadi penutupan jalan. Dengan demikian, klien dapat tetap aman dan terlindungi.
Tidak hanya itu, SROC dari G4S juga menawarkan respond team. Lalu, mereka juga menyediakan training untuk personel keamanan. "Dan juga kita bisa bersama Hills & Associates, kita ada consulting untuk keluarga eksekutif misalkan, kita bisa bikin evacuation drill atau awareness tentang in case kejadian emergency," pungkas Rama.
Asal tahu saja, G4S Indonesia, bagian dari G4S, sebuah perusahaan Allied Universal®, berkomitmen untuk memberikan layanan keamanan dan fasilitas yang komprehensif yang memungkinkan klien perusahaan untuk fokus pada bisnis inti mereka. Layanan dan kemampuan G4S mencakup langkah-langkah keamanan proaktif dan teknologi pintar yang mutakhir, memastikan solusi yang disesuaikan dan terintegrasi untuk beragam kebutuhan klien.

