Dirut PLN Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Wujudkan Swasembada Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT PLN (Persero) mengungkapkan pihaknya tidak bisa bekerja sendirian untuk mewujudkan swasembada energi yang menjadi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan mencapai net zero emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Meski PLN bersama dengan pemerintah sudah menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menargetkan penambahan kapasitas 69,5 gigawatt (GW). Namun, dalam eksekusinya dibutuhkan kolaborasi dengan banyak pihak, termasuk swasta.
“RUPTL sudah ditandatangani, 69,5 GW, 76%-nya berbasis pada renewable energy. Ada sekitar 48.000 kilometer transmisi dan juga 109.000 MVA gardu induk. Kebutuhan investasinya mendekati Rp 3.000 triliun. PLN tidak mungkin menanggung ini sendirian. Satu-satunya cara bergerak maju adalah melalui kolaborasi,” kata Darmawan dalam acara Electricity Connect 2025, Rabu (19/11/2025).
Menurutnya, dengan diselenggarakannya Electricity Connect 2025 oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), diharapkan dapat terbangun skema kolaborasi yang lebih produktif. Terlebih, energi (ketenagalistrikan) merupakan fondasi penting kemajuan sebuah bangsa.
“Setiap tetes rupiah, setiap tetes dolar investasi adalah memastikan untuk membangun sistem kelistrikan Indonesia yang semakin kokoh. Dan dalam proses itu tentu saja kita membangun kapasitas nasional. Kita membangun inovasi teknologi. Kita membangun the transfer of technology,” ujarnya.
Baca Juga
ADB Beri Pinjaman PLN US$ 470 Juta untuk Percepat Transisi Energi
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa realisasi RUPTL juga akan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, memperkuat ketahanan energi, menurunkan emisi gas rumah kaca, serta mendorong pergeseran dari energi impor menuju energi domestik.
“Menciptakan lapangan kerja berarti membangun kemakmuran dan juga mempercepat pertumbuhan ekonomi,” sebut Darmawan.
Secara rinci, porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam RUPTL terbaru ini adalah 42,6 GW (61%), storage 10,3 GW (15%), dan fosil 16,6 GW (24%). Untuk lima tahun pertama, yakni medio 2025-2029, ditargetkan implementasi sebesar 27,9 GW dengan rincian energi fosil sebesar 12,7 GW (45%), EBT 12,2 GW (44%), dan Storage 3,0 GW (11%).
“Dengan adanya RUPTL ini, komitmen kita terhadap penurunan emisi gas rumah kaca adalah komitmen yang sangat kuat. Artinya apa? We’re not going to be able to stand alone here. We’re going to do collaboration. Collaboration secara strategi, kebijakan, innovation technology, joint investment,” tegas Darmawan.

