Konsumen Asean masih Ragu Beralih ke EV, Meski Minat Tinggi
JAKARTA, investortrust.id – Minat masyarakat ASEAN terhadap kendaraan listrik (EV) terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, adopsinya belum sepenuhnya meluas karena masih banyak konsumen yang menyimpan keraguan.
PwC Partner Deals Automotive & ASEAN Automotive Leader Patrick Ziechman menjelaskan bahwa keterbukaan konsumen Indonesia terhadap EV sebenarnya cukup tinggi, berdasarkan survei regional PwC terbaru. “Di Indonesia, 14% sudah memiliki EV dan 70% mengatakan bisa membayangkan membeli EV dalam lima tahun ke depan. Selain itu 9% pemilik EV menyatakan puas dan hanya 2% yang tidak puas,” ujarnya di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Baca Juga
Pasar Otomotif Asean Lesu, Indonesia Alami Penurunan Terdalam
Namun, sebagian pemilik EV tetap mempertimbangkan untuk kembali ke kendaraan berbahan bakar fosil. “Sebanyak 39% pemilik EV di ASEAN masih mempertimbangkan kembali ke kendaraan ICE karena biaya tak terduga dan pengalaman berkendara yang tidak sebaik harapan,” jelas Patrick. Untuk Indonesia, angkanya juga hampir serupa, yakni 33% pemilik EV mempertimbangkan kembali ke mobil konvensional.
Survei PwC juga menyoroti rendahnya minat terhadap pasar mobil listrik bekas. “Di Indonesia, masyarakat sangat skeptis, hanya 47% yang bersedia membeli EV bekas,” tambahnya.
Keterbatasan infrastruktur pengisian menjadi salah satu hambatan terbesar. Di Indonesia dan Filipina, sekitar 80% pengisian daya dilakukan di rumah atau kantor karena stasiun pengisian publik belum memadai.
Baca Juga
Prabowo Ungkap Rencana Mobil Nasional hingga Becak Gunakan Motor Listrik
Meski demikian, konsumen tetap melihat keunggulan EV, mulai dari efisiensi energi, kemudahan pengisian daya di rumah, hingga kenyamanan berkendara. Patrick menilai adopsi EV akan meningkat signifikan jika ekosistem pendukung membaik dan biaya kepemilikan lebih stabil.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan pembiayaan. “Permintaan kendaraan EV tetap tinggi, namun peningkatan infrastruktur dan literasi keuangan kepada lembaga finansial juga diperlukan pada industri ini,” tutupnya.

