Bos KAI – KDM Buka Peluang Revitalisasi Kawasan Stasiun Bandung
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id — Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Bobby Rasyidin dan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) membuka peluang untuk merevitalisasi kawasan Stasiun Bandung.
Langkah ini dilakukan untuk memperkuat fungsi stasiun sebagai simpul transportasi utama dan pusat aktivitas publik di wilayah Priangan. Pertemuan keduanya berlangsung di Gedung Sate, Bandung, Kamis (6/11/2025).
Dalam pertemuan tersebut, KAI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sepakat menjajaki kolaborasi strategis untuk menata ulang kawasan stasiun agar lebih modern, terintegrasi, dan berorientasi pada pelayanan penumpang.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin menyatakan, revitalisasi dilakukan secara bertahap dengan fokus pada peningkatan fasilitas dan konektivitas antarmoda.
“Kami berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menghadirkan kawasan Stasiun Bandung yang aman, nyaman, dan mendukung mobilitas masyarakat perkotaan,” kata Bobby dalam keterangannya, dikutip Jumat (7/11/2025).
Sementara itu, Vice President Public Relations KAI Anne Purba menambahkan, revitalisasi kawasan Stasiun Bandung mencakup pengembangan fasilitas Griya Karya, penataan area parkir dan transportasi daring, perbaikan sistem drainase, serta pembangunan akses penghubung antara sisi utara dan selatan stasiun.
“Revitalisasi ini akan memperkuat peran Stasiun Bandung sebagai ikon kota sekaligus ruang publik yang merepresentasikan kreativitas dan modernitas masyarakat Jawa Barat,” jelas Anne.
Adapun, kawasan Stasiun Bandung yang memiliki luas sekitar 77.000 meter persegi (m2) saat ini melayani lebih dari 36.000 penumpang per hari, terdiri atas layanan kereta jarak jauh, commuter line, logistik, dan feeder Whoosh.
Dibangun pada 1882 oleh Staatsspoorwegen (SS), Stasiun Bandung menjadi salah satu infrastruktur bersejarah dalam perkembangan transportasi di Indonesia. Renovasi besar dilakukan pada 1928 dan 1939 dengan gaya art deco, kemudian disempurnakan pada 1989 – 1990 melalui penambahan desain bergaya rumah adat Joglo.
“Melalui kolaborasi ini, upaya peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang dan revitalisasi Stasiun Bandung diharapkan dapat meningkatkan kualitas transportasi publik, menggerakkan potensi ekonomi, pariwisata, dan kreativitas warga Jawa Barat,” pungkas Anne.

