Elnusa (ELSA) Perkuat Kapasitas 'Cementing' Nasional, Targetkan 20% 'Market Share' di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Elnusa Tbk (ELSA), anak usaha Pertamina Hulu Energi (PHE) yang bergerak di bidang jasa energi terintegrasi, menegaskan pentingnya proses penyemenan (cementing) yang baik dalam kegiatan pengeboran sumur minyak maupun perbaikan sumur lama. Proses ini dinilai menjadi faktor penentu tercapainya target produksi dan efisiensi biaya di sektor hulu migas. Langkah ini bisa mendukung target pemerintah mencapai produksi minyak 1 juta barel pada 2030.
Elnusa mencatat penguasaan pasar (market share) cementing nasional sekitar 13%, dengan potensi peningkatan hingga 20% pada 2026.
Direktur Operasi Elnusa, Andri Wibowo menjelaskan, penyemenan merupakan tahapan krusial dalam pekerjaan pengeboran sumur baru untuk memastikan lapisan batuan di sekitar lubang bor tetap stabil dan fluida tidak saling bercampur. “Kalau tidak kita semen dengan baik, air dan gas bisa menghalangi minyak keluar. Akibatnya, target produksi tidak tercapai,” ujarnya dalam sesi pemaparan di Indramayu, Jumat (31/10/2025).
Baca Juga
Elnusa (ELSA) Bukukan Kenaikan Pendapatan Jadi Rp 10,5 T di Tengah Tekanan Industri Energi
Dia memaparkan, setiap sumur memiliki target produksi tertentu yang harus disesuaikan dengan biaya pengeborannya. Sebagai contoh, sebuah sumur dengan investasi sebesar US$ 3 juta ditargetkan menghasilkan 500 barel per hari. Namun, tanpa penyemenan yang sesuai spesifikasi, target tersebut sulit dicapai.
“Banyak kasus sumur dibor sampai 3.000 meter dengan biaya miliaran rupiah, tapi tidak berproduksi karena kualitas sementingnya buruk,” kata Andri
Pada tahun ini, Elnusa tengah melakukan pengeboran sekitar 900 sumur di berbagai wilayah, termasuk Rokan dan Prabumulih. Menurutnya, keberhasilan mencapai target produksi sangat bergantung pada kualitas cementing yang dilakukan sejak awal.
Selain cementing untuk sumur baru (primary cementing), Elnusa juga menangani pekerjaan work over atau penyemenan ulang pada sumur lama (secondary cementing). Proses ini dilakukan ketika sumur mengalami penurunan produksi akibat masuknya air ke dalam lapisan minyak. “Biasanya, sumur lama makin lama makin tenggelam oleh air. Dengan logging dan sementing ulang, kita bisa menutup bagian yang rusak dan membuka lapisan baru yang masih produktif,” jelasnya.
Dia menambahkan, biaya kerja ulang jauh lebih efisien dibanding pengeboran baru. “Kalau sumur baru bisa mencapai US$ 3 juta–4 juta, kerja ulang hanya sekitar US$ 300.000 atau 10%-nya saja,” katanya.
Ekspansi Kapasitas dan Peningkatan SDM
Di sisi bisnis, Elnusa mencatat penguasaan pasar (market share) cementing nasional sekitar 13%, dengan potensi peningkatan hingga 20% pada 2026. Dia menyebut, kenaikan ini didorong oleh penambahan dua unit cementing baru dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
“Di akhir tahun ini akan datang dua unit cementing baru yang bisa digunakan untuk operasi darat dan lepas pantai. Kami juga sedang menjalankan cementing school bekerja sama dengan para ahli,” ungkapnya.
Baca Juga
Entitas Elnusa (ELSA) Rampungkan Proyek Seismik di Thailand Tanpa Insiden
Dia menambahkan bahwa peningkatan kapasitas SDM menjadi fokus utama perusahaan. “Kami mengembangkan putra-putri bangsa menjadi cementing engineer handal agar tidak bergantung pada tenaga ahli asing,” tuturnya.
Dengan langkah tersebut, Elnusa optimistis mampu memperkuat perannya sebagai penyedia jasa cementing nasional yang kompetitif, sekaligus mendukung upaya Pertamina meningkatkan produksi migas dalam negeri.

