Harita Nickel (NCKL) Catat Pendapatan Rp 22,40 Triliun, Bukti Efisiensi dan Keberlanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi berkelanjutan, hingga kuartal III 2025 membukukan pendapatan sebesar Rp 22,40 triliun, didorong efisiensi berkelanjutan dan stabilnya operasi fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) di Pulau Obi, Halmaherw Selatan, Maluku Utara.
"Perusahaan juga terus memperluas kapasitas produksi dengan membangun fasilitas RKEF ke-3 (KPS) berkapasitas 185.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun," kata Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali dalam keterangannya, Jumat (31/10/2025).
Hingga Oktober 2025, progres fase kedua proyek KPS mencapai 91%, sedangkan fase ketiga telah mencapai 44%. Pembangunan fasilitas ini memperkuat posisi Harita Nickel dalam rantai hilirisasi nikel nasional sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap ekspor produk bernilai tambah tinggi.
Sebagai bagian dari kontribusi terhadap transisi energi bersih, Harita Nickel mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MWp di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Hingga Oktober 2025, progres konstruksi proyek ini telah mencapai 38%, dengan instalasi panel surya tersebar di atap fasilitas produksi dan tempat tinggal karyawan.
Proyek ini diharapkan dapat menurunkan emisi karbon serta meningkatkan efisiensi energi di kawasan industri nikel. Langkah tersebut memperkuat strategi Harita Nickel dalam mendukung pencapaian target net zero emission Indonesia dan memperluas pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertambangan.
Baca Juga
Harita Nickel menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menjalani audit penuh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), standar global paling komprehensif dalam penilaian keberlanjutan sektor pertambangan. Audit ini kini berada pada tahap peninjauan dan mencakup lebih dari 30.000 pekerja dan kontraktor di seluruh rantai operasi perusahaan. Cakupan tersebut menjadikannya audit IRMA dengan jumlah tenaga kerja terbesar di dunia.
“Kombinasi antara kemajuan penerapan standar keberlanjutan global dan kinerja finansial yang solid mencerminkan upaya konsisten perusahaan untuk menumbuhkan nilai ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan,” ujar Lukito Gozali.
Dia mengatakan, partisipasi dalam audit IRMA menjadi langkah penting untuk memastikan seluruh proses bisnis berjalan sejalan dengan standar global dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dalam bidang sosial, Harita Nickel telah mengoperasikan fasilitas pengelolaan sampah terpadu (TPST) di permukiman baru Desa Kawasi. Fasilitas tersebut mampu mengolah sekitar 1,8 ton sampah per hari menjadi kompos dan material daur ulang. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan zona ekonomi baru dengan lebih dari 20 kios aktif milik masyarakat lokal yang mendorong tumbuhnya usaha mikro dan memperkuat kemandirian ekonomi warga.
Inisiatif sosial ini menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan yang menyeimbangkan kinerja ekonomi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

