Menperin: Industri Fesyen Nasional Berpotensi Jadi Tulang Punggung Ekonomi Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, kolaborasi lintas sektor menjadi aspek penting dalam memperkuat daya saing dan keberlanjutan industri fesyen nasional. Apalagi, industri fesyen memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
"Dengan rantai nilai yang panjang dari hulu ke hilir, sektor ini harus diperkuat melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan, mulai dari desainer, pelaku IKM, akademisi, lembaga pembiayaan hingga pemerintah," ucap Menperin dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Sabtu, (25/102025).
Menurutnya, sektor fesyen yang beririsan erat dengan industri tekstil dan produk pakaian jadi, menjadi salah satu sektor andalan dalam memperkuat perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari nilai ekspor produk tekstil dan pakaian jadi pada tahun 2024 yang mencapai US$ 11,96 miliar atau naik 2,43% dibandingkan tahun sebelumnya.
"Capaian positif ini menunjukkan bahwa industri fesyen Indonesia berdaya saing di kancah internasional. Oleh karena itu, masih ada peluang besar untuk memperkuat posisi di pasar global," tuturnya.
Baca Juga
Pemerintah Tetapkan 7 Wilayah Kelola Sampah Jadi Listrik, Zulhas: Tumbuhkan Ekonomi Daerah
Lebih lanjut, Agus menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk, daya saing ekspor, serta perluasan ekosistem inovasi dan kewirausahaan industri fesyen nasional. "Kemenperin berkomitmen untuk menghadirkan berbagai kebijakan dan program yang berpihak kepada pelaku industri, termasuk fasilitasi teknologi, pembiayaan, dan promosi produk di tingkat nasional maupun global, tambahnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebutkan, Kemenperin telah mendirikan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Bali pada tahun 2024 sebagai unit pelaksana teknis di bawah Ditjen IKMA.
"BPIFK hadir untuk menjadi penghubung berbagai stakeholder dalam pengembangan industri fesyen dan kriya nasional," terang Reni pada kegiatan Bali Fashion Network 2025 di Badung, Bali, beberapa waktu lalu.
Reni menambahkan, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci terbentuknya rantai nilai fesyen nasional yang terintegrasi, mulai dari bahan baku, desain, produksi, branding, hingga pemasaran. "Seluruh tahapan ini harus diperkuat dengan dukungan lembaga pendidikan, riset, pembiayaan, sertifikasi, hingga logistik," imbuh Reni.

