Trump Bikin Gerah Rusia, Harga Emas Kembali Melejit
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Harga emas dunia kembali menguat lebih 2% pada Kamis (24/10/2025) setelah dua sesi sebelumnya melemah, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang mendorong permintaan aset aman (safe haven). Investor juga bersiap menghadapi rilis data inflasi utama Amerika Serikat pada Jumat (25/10/2025), yang dapat menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.140,19 per ons, sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Desember menguat 2,1% ke level US$ 4.152,40 per ons. Sebelumnya, harga sempat jatuh ke posisi terendah dalam hampir 2 minggu setelah menembus rekor tertinggi US$ 4.381,21 pada awal pekan.
Baca Juga
Kenaikan harga emas dipicu meningkatnya risiko geopolitik global, termasuk sanksi baru Amerika Serikat terhadap Rusia. Presiden AS Donald Trump pada Rabu (23/10/2025) memberlakukan sanksi terkait Ukraina yang menargetkan dua raksasa minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft. Langkah ini memperburuk ketegangan politik global dan meningkatkan kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan energi dunia.
“Semua faktor fundamental yang mendorong harga emas lebih tinggi tahun ini masih sangat relevan,” ujar Wakil Presiden sekaligus Ahli Strategi Logam Senior di Zaner Metals, Peter Grant dilansir CNBC.
Ia menambahkan, ada aksi beli oportunistik ketika harga turun. "Ketegangan perdagangan serta geopolitik yang meningkat ikut mendukung kenaikan harga hari ini," kata dia.
Baca Juga
Harga Emas Catat Penurunan Harian Terbesar dalam 5 Tahun, Bagaimana Dampaknya ke Bitcoin?
Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga
Kenaikan harga emas juga ditopang ekspektasi bahwa The Fed segera menurunkan suku bunga acuan. Investor tengah menanti rilis data inflasi AS yang dapat memberikan sinyal arah kebijakan moneter berikutnya. Jika inflasi melandai, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin besar, sehingga menurunkan imbal hasil obligasi dan meningkatkan daya tarik emas.
Secara historis, emas kerap menjadi pilihan investasi saat ketidakpastian ekonomi meningkat atau ketika suku bunga riil menurun. Tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 57%, didorong kombinasi faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, serta pembelian logam mulia oleh sejumlah bank sentral.

