Harga Emas Dunia 2 Hari Beruntun Tertekan, tapi UBS Bilang Jangan Panik
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust.id - Harga emas dunia turun untuk hari kedua berturut-turut pada Rabu (22/10/2025), setelah reli tajam selama sepekan terakhir memicu aksi ambil untung di kalangan investor. Tekanan jual muncul di tengah melambatnya momentum harga, meski prospek jangka panjang logam mulia ini dinilai masih positif.
Bank investasi asal Swiss, UBS, menilai penurunan tajam harga emas minggu ini bukan disebabkan faktor makroekonomi atau geopolitik tertentu.
Kontrak emas berjangka turun US$ 43,70 atau 1,06% menjadi US$ 4.065,40 per ons. Sehari sebelumnya, emas anjlok 5,74% dan ditutup di US$ 4.109,10, mencatat penurunan harian terbesar sejak 2013.
Baca Juga
Saham-saham pertambangan emas, seperti Barrick Gold juga terkoreksi lebih dari 1%.
Aksi jual 2 hari ini terjadi setelah harga emas sempat menembus rekor intraday di level US$ 4.398 per ons pada Senin (20/10/2025). Rekor tersebut dipicu oleh lonjakan permintaan safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang meningkat.
Bank investasi asal Swiss, UBS, menilai penurunan tajam harga emas minggu ini bukan disebabkan faktor makroekonomi atau geopolitik tertentu. “Jika melihat pola penyesuaian posisi non-komersial, kami yakin penurunan tersebut sebagian besar bersifat teknis,” tulis tim analis UBS yang dipimpin oleh Wayne Gordon kepada klien dilansir CNBC pada Rabu (22/10/2025).
Menurut UBS, melambatnya momentum harga dan meningkatnya volatilitas opsi mendorong investor spekulatif untuk mengambil keuntungan setelah reli panjang. “Dengan volatilitas yang meningkat, aksi profit taking menjadi pilihan logis bagi sebagian besar pelaku pasar,” tulis Gordon.
Baca Juga
Meskipun terkoreksi, harga emas masih mencatat kenaikan lebih 50% sepanjang tahun ini dan hampir 5% dalam sebulan terakhir. UBS menilai faktor fundamental yang menopang reli emas sejak awal tahun kemungkinan akan tetap kuat dalam jangka menengah.
Faktor-faktor tersebut mencakup inflasi yang masih tinggi, prospek suku bunga berfluktuasi, ketegangan politik di Amerika Serikat, serta kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve (bank sentral AS). “Kami percaya masih terlalu dini untuk bersikap negatif terhadap emas, meski ada jeda dalam reli,” ujar Gordon.

