Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Program Listrik Desa Jadi Bukti Pemerataan Energi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerataan energi melalui program Listrik Desa (Lisdes) merupakan salah satu bukti kerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang telah berjalan satu tahun. Terbaru, pemerataan energi ini menyentuh Distrik Kiraweri, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan komitmennya untuk meningkatkan pemerataan akses listrik, khususnya bagi masyarakat yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Untuk mewujudkan hal tersebut, Kementerian ESDM menjalankan program Lisdes 2025–2029.
Program ini menargetkan elektrifikasi 5.758 desa yang belum dilayani PLN, mencakup pembangunan infrastruktur listrik perdesaan dan penyambungan listrik untuk sekitar 1,2 juta rumah tangga. Target ini sejalan dengan kebijakan ketenagalistrikan yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2025–2034.
Baca Juga
Bahlil Bahas Kompensasi BBM dan Listrik dengan Purbaya: Sudah Clear
“Target Bapak Presiden Prabowo, pada 2029–2030 semua desa harus sudah terlayani listrik. Saat ini masih ada 5.700 desa yang belum memiliki listrik. Negara harus hadir untuk memastikan, dan kita harus memasang listrik bagi saudara-saudara kita,” ucap Bahlil, Sabtu (18/10/2025).
Warga Pegunungan Arfak, Elias Inyomusi Anakangi menceritakan betapa bahagianya masyarakat di wilayahnya karena listrik telah masuk ke rumah mereka. Dia mengaku pernah merasakan kepiluan hidup tanpa penerangan yang memadai sejak lahir, sehingga butuh usaha dan kreavitas jika ingin hidup lebih berwarna di malam hari.
“Nama saya Elias Inyomusi Anakangi, dari Distrik Kiraweri. Dulu saya lahir di sini, kami belum ada lampu. Kami bikin api. Kami baca, belajar itu, pasang, bikin gelegar untuk jadi pelita. Bikin tali, rotan itu. Rotan itu baru kita isi siram minyak tanah, baru taruh rotan itu di botol, baru bakar, jadi sumbu toh. Itu kami pakai belajar,” tutur Elias.
Karena listrik belum masuk distrik, ketika ingin keluar rumah pun Elias hanya berpatokan pada jalan kecil setapak sebagai arah mereka menuju tempat tujuan. Tanpa penerangan dari sorot lampu, hanya sinar bulan yang menerangi malam warga Distrik Kirawei.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2024 terdapat 84.276 wilayah administrasi setingkat desa yang terdiri atas 75.753 desa dan 8.486 kelurahan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, menurut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, terdapat 5.700 atau sekitar 6,76% dari total desa dan kelurahan di Tanah Air yang belum teraliri listrik. Pemerintah menargetkan seluruh desa itu akan mendapatkan akses listrik pada 2030.
“Oh, zaman dulu itu setengah mati, jalan saja jalan tikus. Jalan tikus artinya jalan kecil setapak begini saja. Baru kitong (kita) semua baku jalan di jalan kecil itu,” ucap Elias.
Baca Juga
Potensi Panas Bumi RI 90% Belum Tergarap, Bahlil Beberkan Kendalanya
Kini, melalui energi air yang diolah menjadi listrik oleh Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Anggi berkapasitas 150 kW, seluruh rumah di Distrik Kiraweri sudah terang. Hal ini merupakan wujud pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dengan motor penggerak Kementerian ESDM, yang menekankan pemerataan akses energi hingga pelosok negeri.
Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) membangun pembangkit listrik berbasis energi terbarukan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Anggi berkapasitas 150 kW di Kampung Upper, Distrik Anggi, Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat.
PLTMH Anggi merupakan salah satu contoh nyata realisasi program Dedieselisasi Pembangkit yang tengah gencar diimplementasikan pemerintah. Dibangun pada 2022, PLTMH Anggi adalah pembangkit listrik yang bersumber dari tenaga diesel (berbahan bakar fosil) disubtitusi dengan pembangkit energi baru dan terbarukan yang lebih andal dan ramah lingkungan.

