Mentan Amran: Dari 4,2 Juta Ton Cadangan Beras, yang Rusak Hanya 0,07%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa tingkat kerusakan beras di gudang Bulog sangat kecil dibandingkan total stok nasional yang mencapai rekor tertinggi dalam sejarah Indonesia, yakni 4,2 juta ton.
“29.000 ton lebih (jumlah beras yang mutunya turun), katakanlah 30.000 (ton) aku tambah seribu. Katakanlah 30.000 yang rusak, 30.000 dibagi 4,2 juta ton itu 0,071% (hasilnya),” ujarnya, di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Amran menilai, jangan sampai sorotan terhadap beras yang rusak justru menutupi capaian besar sektor pertanian yang mampu meningkatkan stok beras nasional hingga level tertinggi sejak Indonesia merdeka.
“Jadi (jangan) yang disorot jangan 0,071%, tapi tolong sorot 99,8% persen (stok beras yang mencapai 4,2 juta). Itu yang harus dibahas, lebih bagus,” katanya.
Baca Juga
Dorong Swasembada Pangan, Prabowo: Stok Cadangan Beras Lebih dari 4 Juta Ton
Menurut Amran, melimpahnya stok beras membuat Bulog bahkan harus menyewa gedung tambahan dengan kapasitas 1,2 juta ton. Kondisi ini merupakan buah dari kerja keras petani dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada ketahanan pangan.
“Dulu tidak ada rusak, karena berasnya tidak ada atau kurang. Sekarang banyak beras sampai sewa gudang 1,2 juta ton kapasitas gudang, ini kita mau bangun gudang. Presiden luar biasa, perintahkan kepada kami dan ini perjuangan petani Indonesia, ini adalah kebanggaan kita semua, bukan saya,” ucap dia.
Amran menyatakan, Presiden Prabowo Subianto telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 5 triliun untuk membangun gudang baru bagi Bulog agar penanganan stok lebih optimal. Bahkan, beras yang mengalami penurunan mutu pun tetap memiliki nilai ekonomi dan bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Kalau tidak layak ini kita untuk pakan ternak,” sambung dia.
Ia menyatakan, capaian 4,2 juta ton stok beras ini merupakan yang tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1969. Selain itu, sektor pertanian kini menjadi penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, sekaligus mendorong kenaikan nilai tukar petani (NTP).
“Ini pertama dalam sejarah, ini yang harus kita syukuri bahwa pemimpin kita pro rakyat, peduli rakyat, apapun kami minta untuk kepentingan rakyat beliau penuhi,” kata Amran.

