Biodiesel Bikin RI Hemat Devisa US$ 40,71 Miliar, Pemerintah Siapkan Langkah ke B50 Tahun 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, penerapan biodiesel berhasil menghemat devisa Indonesia hingga US$ 40,71 miliar sejak tahun 2020. Pemerintah pun berkomitmen terus meningkatkan penggunaan biodiesel ke level yang lebih tinggi.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, kebijakan mandatori biodiesel telah berjalan bertahap sejak 2016, mulai dari B10, B20, B30, hingga kini mencapai B40. Pemerintah menargetkan implementasi B50 pada tahun 2026 mendatang.
Baca Juga
Mendag Sesalkan Uni Eropa Ajukan Banding atas Sengketa Biodiesel ke WTO
“Sepanjang 2020 hingga 2025, penghematan devisa dari sektor solar mencapai sekitar US$ 40,71 miliar,” ujar Bahlil dalam acara di Jakarta International Convention Center, Kamis (9/10/2025).
Implementasi B40 sejak awal 2025 disebut berhasil menekan impor solar nasional. Berdasarkan data ESDM, impor solar tahun 2025 hanya 4,9 juta kiloliter (KL) atau 10,58% dari kebutuhan nasional, turun signifikan dibanding tahun 2024 yang mencapai 8,02 juta KL saat masih menggunakan B35.
Baca Juga
Pemerintah berharap penerapan B50 pada 2026 mampu menekan impor solar lebih jauh. “Biodiesel merupakan campuran CPO (crude palm oil) dan metanol. Dengan memaksimalkan penggunaan CPO domestik, nilai tambah bagi petani sawit meningkat dan devisa tidak keluar negeri,” kata Bahlil.
Namun, Bahlil mengakui penerapan B50 memerlukan pasokan CPO besar, sekitar 20 juta KL. Untuk itu, pemerintah akan menyesuaikan kuota ekspor CPO dan mendorong intensifikasi serta pembukaan lahan baru guna menjaga ketersediaan bahan baku.

