Bahlil Jamin Kandungan Etanol di Basefuel BBM Pertamina Aman
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kandungan etanol 3,5% yang terdapat di dalam basefuel BBM yang diimpor oleh Pertamina tidak berbahaya. Menurutnya, basefuel tersebut masih sesuai dengan standar.
Sebagaimana diketahui, sebelum ini badan usaha swasta penyalur BBM seperti Shell, Vivo, BP-AKR, dan ExxonMobil enggan membeli basefuel yang diimpor lewat Pertamina lantaran terdapat kandungan etanol 3,5%. Padahal menurut Bahlil, basefuel tersebut sudah melalui pengujian Lemigas.
“Begini, seluruh minyak atau BBM yang didistribusikan ke SPBU, baik punya Pertamina atau swasta, semua diuji lewat standar pemerintah lewat Lemigas. Dan kalau tidak lolos standar, pasti tidak akan didistribusikan. Semuanya sudah sesuai standar,” jelas Bahlil saat ditemui di Sarinah, Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Lebih lanjut Bahlil menyampaikan bahwa ambang batas kandungan etanol yang diperkenankan oleh Kementerian ESDM adalah tidak melebihi 20%. Maka dari itu, dia tidak melihat adanya kesalahan terhadap produk basefuel yang diimpor Pertamina untuk memenuhi kebutuhan BU swasta.
Baca Juga
Pemerintah Siapkan Bensin Pakai Etanol 10% untuk Tekan Impor BBM dan Emisi Karbon
“Etanol itu selama di bawah 20% itu tidak ada masalah, selama etanolnya itu etanol murni 99,95%, dan yang dilakukan oleh Pertamina kemarin itu adalah sudah memenuhi standar,” ucap mantan Menteri Investasi tersebut.
Diketahui, Pertamina telah mengimpor sebanyak 100.000 barel basefuel BBM untuk memenuhi kebutuhan stok BU swasta. Namun, karena BU swasta enggan membeli basefuel tersebut, maka itu akan digunakan sendiri oleh Pertamina.
Kendati demikian, BU swasta tetap mau bernegosiasi dengan Pertamina untuk kedatangan kargo basefuel selanjutnya. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Achmad Muchtasyar.
“Tetapi teman-teman SPBU swasta berkenan, jika nanti pada kargo selanjutnya, siap bernegosiasi. Ini bukan masalah di kualitas, masalah di konten," sebut Achmad Muchtasyar.

