Bagikan

Kemenlu Fokus Tarik Investasi Asing dan Transfer Teknologi, Ini Alasannya!

Poin Penting

Kemenlu dorong diplomasi ekonomi untuk tarik investasi dan transfer teknologi ke sektor strategis.
Target ekonomi 8% butuh investasi asing besar dan akses teknologi industri unggulan.
Fokus diplomasi mencakup pertanian, AI, semikonduktor, hingga kendaraan listrik.



KAB. TANGERANG, investortrust.id -
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menegaskan peran strategis diplomasi ekonomi untuk peningkatan investasi dan transfer teknologi. Langkah ini menjadi upaya tercapainya target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.

Sekretaris Jenderal Kemenlu, Denny Abdi menyebut pertumbuhan ekonomi tinggi membutuhkan keberadaan industri dengan nilai tambah besar. Ia memberi contoh seperti hilirisasi nikel menjadi baterai yang membutuhkan investasi besar dan tidak dapat sepenuhnya dipenuhi oleh modal dalam negeri.

“Investasi lokal itu nggak cukup. Kita perlu foreign investment. Itu yang kita promosikan supaya orang mau datang berinvestasi,” ujarnya saat ditemui di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Senin (29/9/2025).

Selain soal modal, Indonesia juga memerlukan akses terhadap teknologi mutakhir untuk mengembangkan industri strategis. Lewat 132 perwakilan diplomatik di luar negeri, Kemenlu secara aktif mendekati berbagai pihak seperti universitas dan perusahaan high-tech untuk menjalin kolaborasi.

Baca Juga

BKPM Targetkan Realisasi Investasi Rp 2.175 Triliun di 2026, Naik 14,2%


“Secara strategis kita identifikasi apa yang menjadi prioritas kita. Misalnya meningkatkan kemampuan produksi pangan. Karena kita punya (program) makan bergizi gratis misalnya. Nah, kita ajak industri pertanian supaya pertanian kita juga bisa produktif sama bagusnya dengan negara-negara yang lebih maju. Jadi sektor-sektor spesifik itu. Kita butuh hilirisasi misalnya. Kita target itu dari negara mana," jelas mantan Duta Besar Vietnam itu.

Denny menambahkan, sejumlah sektor menjadi fokus utama pemerintah saat ini, termasuk pertanian, perikanan, energi terbarukan, industri digital, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), hingga kendaraan listrik. Sektor-sektor ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan dan energi, tetapi juga menjadi prasyarat dalam menarik investasi berkualitas yang berorientasi pada keberlanjutan.

Ia menilai, kondisi global yang penuh tantangan justru dapat membuka peluang baru bagi Indonesia. Persaingan yang lebih sedikit di tengah kesulitan ekonomi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi pada sektor industri tertentu.

“Setiap kesulitan itu ada peluangnya. Tergantung kita lihat di mana kekuatan kita,” beber Denny.

Melalui strategi diplomasi ekonomi yang terarah, Kemenlu berharap Indonesia dapat meningkatkan pendapatan per kapita dari sekitar US$ 5.000 saat ini menjadi di atas US$ 20.000 dalam jangka panjang. “Kalau sudah begitu, baru kita bisa melompat menjadi negara maju,” tutupnya.


The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024