BKPM Targetkan Realisasi Investasi Rp 2.175 Triliun di 2026, Naik 14,2%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menargetkan realisasi investasi nasional pada 2026 mencapai Rp 2.175,26 triliun. Angka ini naik 14,2% dibanding target tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.905,6 triliun.
“Target ini disusun Bappenas, dan kami optimis dapat tercapai. Apalagi dengan progres yang sedang berjalan, banyak pabrik dan proyek besar akan masuk tahap produksi di akhir 2025,” kata Rosan dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan 2026 di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Sepanjang semester I-2025, Rosan menyebut, realisasi investasi mencapai Rp 983,9 triliun, tumbuh 13,6% dibanding periode sama tahun lalu. Dari total tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi Rp 439,6 triliun atau 45,9%, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 510,3 triliun atau 54,8%.
Dari sisi wilayah, investasi di Pulau Jawa menyumbang Rp 496,9 triliun atau 49,5% dari total, sementara di luar Jawa mencapai Rp 486,6 triliun atau 50,5%. Rosan mencatat, sektor hilirisasi menyumbang 29,8% atau Rp 280,8 triliun dari total realisasi semester I.
“Di sektor hilirisasi, 69% berasal dari mineral, 24% perkebunan, 6% migas, dan 1% kelautan. Nilainya tumbuh 54,8% dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.
Rosan berjanji, pemerintah akan terus memperbaiki iklim investasi melalui berbagai kebijakan, termasuk penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) 28/2025. Aturan ini mengatur kepastian perizinan, penyederhanaan proses, dan sinkronisasi regulasi lintas kementerian/lembaga.
Ia menilai kebijakan ini sudah menunjukkan dampak positif. Sejak aturan berlaku, BKPM menerbitkan 21 izin investasi yang sempat terhambat. “Ini memberi kepastian kepada investor bahwa komitmen pemerintah bisa dijalankan,” katanya.
Rosan optimistis target 2026 bisa tercapai dengan dukungan proyek strategis seperti Danantara. “Kehadiran Danantara memberikan keyakinan kepada investor karena mereka melihat adanya return yang baik, keamanan kerja, dan kontribusi positif terhadap ekspor dan daya beli,” harapnya.

