Pasar AI Indonesia Meledak, Tantangan 'Brain Drain' Masih Mengancam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Permintaan terhadap talenta kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus meningkat seiring percepatan transformasi digital. Namun, fenomena brain drain atau keluarnya talenta digital ke luar negeri masih menjadi tantangan besar bagi industri nasional.
Google Developer Expert Esther Irawati Setiawan menilai potensi industri AI di Indonesia sangat besar. Meski demikian, banyak talenta AI Tanah Air yang lebih memilih bekerja di luar negeri bukan karena faktor gaji, melainkan fleksibilitas kerja.
Baca Juga
Luncurkan IDCamp 2025, Indosat (ISAT) Siap Cetak 2 Juta Talenta AI
“Mereka tidak selalu mengejar gaji tinggi. Banyak yang tertarik ke perusahaan luar karena menawarkan opsi work from home, sehingga bisa tetap tinggal di kota asal sambil bekerja secara global,” jelas Esther di kantor Indosat, Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Perancang kurikulum IDCamp 2025 itu optimistis kondisi ini akan berubah seiring meningkatnya adopsi AI oleh industri dalam negeri. “Semakin banyak perusahaan Indonesia yang mulai membuka diri terhadap teknologi AI. Ini membuka peluang besar bagi talenta lokal untuk berkarier tanpa harus ke luar negeri,” ujarnya.
Punya Keunggulan
Di sisi lain, Director & CHRO Indosat Irsyad Sahroni mengatakan pasar Indonesia memiliki perilaku digital yang sangat beragam, yang menjadi keunggulan tersendiri. “Adopsi AI masih sangat luas dan data pool kita besar, dengan ratusan juta pengguna. Ini menjadikan Indonesia pasar sekaligus laboratorium yang menarik bagi pengembangan teknologi. Jika ekosistem terus tumbuh, kompetisi global justru akan berpihak kepada kita,” katanya.
Irsyad menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang fleksibel, kompetitif, dan inovatif untuk menahan talenta digital tetap di dalam negeri. Ia mencontohkan penerapan AI dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Baca Juga
Proyek Stargate Tambah 5 Data Center AI, OpenAI hingga SoftBank Gelontorkan US$ 400 Miliar
“Saya bisa mengetahui kemungkinan seorang karyawan resign enam tahun ke depan atau faktor yang membuatnya bertahan. Ini bukan karena lebih pintar, tetapi karena memiliki akses informasi yang lebih baik,” tambahnya.
Menurut Irsyad, AI kini telah mengubah cara industri mengambil keputusan strategis dan meningkatkan efisiensi bisnis. “Semua profesi tanpa kemampuan AI yang memadai akan tersingkirkan. Ini bukan sekadar tren, tetapi soal bertahan di dunia kerja,” ungkapnya.

