Meski Produksi Stagnan, Sawit masih Jadi Andalan Neraca Dagang RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menyebutkan ekspor minyak sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 13% hingga tahun berjalan 2025, dibandingkan periode sama tahun 2024.
Kendati mengalami kenaikan, Eddy mengungkapkan, volume ekspor sawit Indonesia masih mengalami penurunan sekitar 10-15% dibandingkan dengan tahun 2021. Jika melihat kondisi saat ini, produk sawit masih menjadi komoditas andalan untuk menciptakan surplus neraca perdagangan Tanah Air.
Baca Juga
Pasar China Kian Menuntut Produk Sawit Hilir dan Berkelanjutan
"Tapi di sini terlihat bahwa masih sangat dominan, artinya sawit ini memberikan sumbangan devisa dan membuat raca perdagangan Indonesia positif," ucap Eddy dalam sebuah diskusi secara daring yang digelar oleh Indef, Senin (22/9/2025).
Sedangkan kinerja produksi kelapa sawit Indonesia, Eddy mengungkapkan, terjadi stagnasi atau tidak mengalami peningkatan secara signifikan. Dalam paparannya, produksi pada 2024 sebanyak 52,7 juta ton atau mengalami penurunan dari 2023 sebanyak 54,8 juta ton.
"Produksi sawit Indonesia cenderung stagnan atau berada dalam rentang 50an juta ton. Tahun 2024 sebanyak 52,7 juta (ton), dibandingkan 2023 54,8 juta (ton)," bebernya.
Baca Juga
RI Negosiasi dengan AS, Targetkan Tarif 0% untuk Kopi, Kakao, Sawit hingga Nanas Kaleng
Sedangkan konsumsi dalam negeri sendiri mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Eddy mengatakan, pada 2024, konsumsi naik menjadi 23.8 juta ton, dibandingkan tahun 2023 hanya mencapai 23,2 juta ton.
"Kenapa terjadi kenaikan? Mandatori biodiesel menjadi penyebab utama kenaikan konsumsi dalam negeri. Bahkan kini, konsumsi untuk pangan sudah tersusul oleh konsumsi untuk energi atau biodiesel," terang Eddy.

