Danantara Bidik Sektor Kesehatan Sebagai Investasi Strategis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menegaskan komitmennya untuk menjadikan sektor kesehatan sebagai salah satu pilar investasi strategis. Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menyebut belanja kesehatan Indonesia berpotensi tumbuh tiga kali lipat dalam 10 tahun ke depan.
“Healthcare bukan biaya, tapi investasi. Dengan penetrasi yang masih rendah, potensi pertumbuhan di sektor ini sangat besar,” ujar Stefanus dalam acara Asia Healthcare Summit 2025, Rabu, (3/9/2025).
Ia menjelaskan, saat ini belanja kesehatan Indonesia masih di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dari rata-rata Asia yang sudah di atas 4%. Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, belanja kesehatan Indonesia hanya 1% dari level negara tersebut, padahal jumlah penduduk relatif setara.
Menurut Stefanus, rendahnya penetrasi layanan kesehatan sekaligus membuka peluang investasi masif di rumah sakit, klinik, manufaktur obat, hingga bioteknologi. “Dengan proyeksi pertumbuhan GDP, serta meningkatnya populasi dewasa dan lansia, belanja kesehatan dalam negeri bisa melonjak tiga kali lipat,” jelasnya.
Baca Juga
Sampah Jadi Listrik, Danantara Ikut Garap Proyek PLTSa Bareng ESDM
Proyek andalan Danantara di industri kesehatan
Salah satu proyek andalan Danantara adalah pembangunan Bali International Hospital dengan kapasitas 250 tempat tidur. Fasilitas ini menggandeng mitra global seperti Mayo Clinic untuk layanan onkologi dan jantung.
“Kami ingin menghadirkan rumah sakit kelas dunia di Indonesia agar masyarakat tidak perlu ke Singapura atau Malaysia untuk berobat,” lanjut Stefanus.
Pemerintah berharap proyek tersebut sekaligus mengurangi arus keluar devisa akibat medical tourism. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, setiap tahun jutaan warga Indonesia berobat ke luar negeri dengan nilai belanja miliaran dolar AS.
Selain rumah sakit, Danantara juga melirik investasi di manufaktur plasma darah dan farmasi, yang dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan kesehatan nasional. “Resiliensi di sektor kesehatan adalah bagian dari keamanan negara. Itu sebabnya healthcare kami masukkan ke dalam agenda prioritas investasi,” ujar Stefanus.
Dengan populasi mendekati 300 juta jiwa, ia menyebut bahwa pasar kesehatan Indonesia dipandang sebagai salah satu yang paling prospektif di Asia. “Ini adalah peluang bagi investor global dan swasta nasional untuk berkolaborasi membangun ekosistem kesehatan yang kuat dan berkelas dunia,” tutup Stefanus.

