Diapresiasi Pemerintah, Pesawat di RI Kini Bisa Terbang Pakai Bahan Bakar dari Jelantah Buatan Pertamina
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina (Persero) mencatat sejarah baru di sektor aviasi Indonesia dengan meluncurkan penerbangan perdana menggunakan bahan bakar berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) berbahan dasar minyak jelantah. Penerbangan komersial ini dijalankan maskapai Pelita Air untuk rute Jakarta–Bali pada Rabu (20/8/2025) melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Peluncuran ini menandai uji coba sekaligus kesiapan ekosistem bahan bakar ramah lingkungan di sektor penerbangan nasional. SAF yang diproduksi Pertamina melalui teknologi co-processing di Kilang Cilacap diharapkan menjadi tonggak penting dalam transisi energi Indonesia.
Baca Juga
Kilang Pertamina Ambil Alih 14% Saham Patra SK dari SK Enmove Korea
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengapresiasi langkah Pertamina dalam penerbangan perdana ini. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin global dalam produksi SAF.
“Indonesia punya potensi untuk menjadi leadership dalam menggerakkan SAF. Ke depan kita sebagai penghasil SAF harus mampu menjadi hub dalam konteks marketing dan hub policy-nya. Ekspansi market ini tidak hanya di Pelita, tetapi juga domestik dan internasional,” ujar Arif.
Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah Odo R.M. Manuhutu menambahkan, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF bukan hanya menunjukkan komitmen transisi energi, tetapi menggerakkan ekonomi sirkuler. “Limbah dari kegiatan masyarakat dapat memberikan nilai tambah,” jelas Odo.
Momentum dekarbonisasi aviasi
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap inisiatif ini. Menurutnya, SAF menjadi kunci penting memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Baca Juga
Jakarta-Bali Jadi Saksi Sejarah, Pelita Air Terbang Pakai SAF Pertamina Berbahan Jelantah
“Dengan adanya SAF bukan hanya menjadi ketahanan energi, tapi swasembada energi. Kalau kita mengembangkan SAF, produk bioavtur ini sudah naik kelas serta certified secara aspek keberlanjutannya. Ini menjadi hal yang paling penting untuk ketahanan dan kemandirian energi,” kata Dadan.
SAF Pertamina diproduksi melalui kolaborasi lintas Pertamina Group, melibatkan PT Kilang Pertamina Internasional, PT Pertamina Patra Niaga, dan PT Pelita Air Service. Produk ini dihasilkan melalui teknologi co-processing dengan mengombinasikan minyak jelantah dan bahan baku fosil, serta sudah mengantongi sertifikasi Proof of Sustainability (POS) dan ISCC CORSIA.
Pertamina juga membangun ekosistem pengumpulan minyak jelantah melalui program UCollect yang melibatkan sektor hotel, restoran, katering, dan rumah tangga. Skema ini membuka peluang bagi masyarakat dan UMKM untuk terlibat dalam rantai pasok energi hijau, sekaligus memperkuat model ekonomi sirkuler.
Langkah ini mendukung target pemerintah untuk mencapai dekarbonisasi sektor aviasi, sekaligus berkontribusi pada pencapaian net zero emission 2060. Berdasarkan uji teknis, penggunaan SAF dari minyak jelantah dapat menurunkan emisi karbon hingga 84% dibandingkan avtur konvensional.
Dengan peluncuran ini, Pertamina menargetkan menjadi penyedia utama bahan bakar ramah lingkungan untuk sektor penerbangan di Asia Tenggara. Pelita Air menjadi maskapai pertama yang mengoperasikan penerbangan berbahan bakar SAF Pertamina, menandai kesiapan Indonesia menghadirkan solusi energi hijau yang kompetitif di pasar global.

