Kadin Indonesia: IEU-CEPA Akan Gentarkan Negara Pesaing
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Komisi Tetap Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anne Patricia Sutanto, menyatakan bahwa finalisasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) akan memberikan keunggulan signifikan bagi Indonesia, bahkan membuat gentar negara-negara pesaing di kawasan.
“Dengan adanya IEU-CEPA, apalagi entry into force langsung 98% (komoditas) dengan prioritas tarif masuk 0%, sudah pasti, detik ini juga membuat shaky negara-negara itu,” ujar Anne saat ditemui di Kantor Kadin Indonesia, Jakarta, Senin (4/8/2025).
Anne menjelaskan, pembebasan tarif masuk sebesar 0% untuk ekspor ke pasar Uni Eropa adalah harapan seluruh pelaku industri padat karya nasional. Pasalnya, Indonesia berkompetisi langsung dengan negara-negara Asia seperti Vietnam, yang telah memiliki free trade agreement dengan Uni Eropa, serta Kamboja dan Bangladesh yang menikmati fasilitas Generalized Scheme of Preferences (GSP) Plus.
“Dalam hal ini adalah Vietnam, dan GSP Plus adalah Kamboja dan Bangladesh,” jelasnya.
Ia menambahkan, berbagai langkah deregulasi yang dilakukan pemerintah saat ini akan berdampak pada meningkatnya arus investasi asing langsung (FDI). Masuknya investasi global tersebut akan memicu penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk berekspansi, khususnya dalam sektor-sektor yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal.
Baca Juga
Kemendag: IEU-CEPA Akan Untungkan Industri Padat Karya dan UMKM
“Karena sekarang mungkin belum dimanfaatkan dengan penuh,” ujarnya.
Namun demikian, Anne mengingatkan pentingnya kesiapan para pelaku industri padat karya, terutama di daerah, agar mereka dapat merespons peluang dari IEU-CEPA secara maksimal ketika perjanjian mulai berlaku. Menurutnya, persiapan menyeluruh akan menentukan daya saing Indonesia di pasar internasional.
Apalagi, lanjut Anne, saat ini sudah banyak merek global yang mulai menjajaki kerja sama dengan pelaku industri di Tanah Air. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu menjadi negara yang efisien dan ramah bisnis, setara dengan negara seperti Singapura.
“Saya percaya pemerintah dan pengusaha akan mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8% tersebut bukan hanya mimpi,” pungkasnya.

