Ini Alasan Bos VinFast Ogah Ikut Perang Harga Mobil Listrik di Indonesia
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id - Di tengah serbuan mobil listrik murah di pasar otomotif Indonesia, CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menegaskan pihaknya tak akan ikut terjun dalam perang harga. Menurutnya, VinFast lebih memilih strategi membangun ekosistem lengkap dibanding sekadar menurunkan harga jual kendaraan.
“Perang harga bukan fokus kami. Kami justru ingin memberikan solusi menyeluruh kepada pelanggan melalui ekosistem yang kami miliki,” ujar Kariyanto saat ditemui di ajang GIIAS 2025 di ICE BSD City, Tangerang, Jumat (1/8/2025).
Strategi tersebut meliputi pembangunan jaringan pengisian daya melalui perusahaan afiliasi V-Green, layanan purna jual terintegrasi, serta program buyback dengan jaminan nilai jual kembali hingga 70% dalam tiga tahun. “Ini menjawab kekhawatiran umum pembeli EV soal resale value,” katanya.
Baca Juga
GAC Luncurkan AION UT di GIIAS 2025, Mobil Listrik Futuristik Berbasis AI
VinFast juga menyediakan layanan taksi listrik GSM (Green Smart Mobility) yang memungkinkan calon konsumen mencoba langsung kenyamanan produk sebelum membeli. “Ini salah satu cara kami mendekatkan brand dengan masyarakat,” lanjutnya.
Di tengah gempuran harga mobil listrik yang kian terjangkau, seperti DFSK Seres E1 yang dibanderol Rp 168 juta dan Wuling Air EV Lite di kisaran Rp 180 jutaan, VinFast menghadirkan VF3 dengan harga spesial Rp 192,2 juta selama GIIAS 2025.
Meski harga VF3 bersaing di segmen entry level, VinFast menegaskan mereka tidak ingin menjadikan harga sebagai satu-satunya alat jual.
“Harga memang penting, tapi konsumen sekarang juga mempertimbangkan biaya charging, aftersales, dan nilai jual kembali,” ujar sang CEO.
Baca Juga
Volvo Hadir di GIIAS 2025, Tawarkan Harga Baru untuk Mobil Listrik Premium
Pabrik VinFast di Subang
VinFast menilai pendekatan berbasis ekosistem lebih berkelanjutan ketimbang hanya menurunkan marjin. Apalagi, merek asal Vietnam ini sudah berinvestasi besar di Indonesia dengan membangun pabrik seluas 170 hektare di Subang, Jawa Barat.
Fase pertama pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir kuartal IV 2025 dengan VF3 sebagai model perakitan perdana. “Kami sedang studi untuk model lain, namun VF3 adalah fokus kami saat ini,” jelasnya.
Soal tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), VinFast menyatakan komitmen penuh pada program pemerintah. Target TKDN 40% akan dicapai pada 2026, lalu ditingkatkan menjadi 60% pada 2027, sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan strategi ini, VinFast optimistis dapat bersaing sehat dan berkelanjutan di pasar Indonesia. “Kami baru satu tahun di pasar ini, tapi penerimaan cukup positif. Fokus kami kini adalah membangun kepercayaan konsumen, bukan sekadar menjual mobil murah,” tutup Kariyanto.

