Investasi Baru Siap Menyerbu, Industri Tekstil Nasional Diprediksi Makin Cerah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memproyeksikan prospek cerah bagi sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Optimisme ini muncul seiring mulai meningkatnya potensi investasi baru yang akan masuk ke Indonesia.
“Sekarang mulai banyak investasi yang masuk. Itu indikator bahwa sektor ini masih punya prospek yang kuat,” ujar Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Taufiek Bawazier, di Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Menurut Taufiek, kinerja industri tekstil akan terdorong oleh revisi kebijakan impor melalui Permendag Nomor 8 Tahun 2024 yang mulai berlaku Agustus ini, serta perkembangan positif dari penyelesaian perjanjian dagang Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
“Bayangkan saja, dengan 280 juta penduduk, industri ini mencakup dari hulu (benang) sampai hilir (tekstil dan garmen). Mudah-mudahan dengan terbitnya Permendag Nomor 8, kita bisa mengatur sisi supply dan demand dengan lebih cerdas,” jelasnya.
Baca Juga
Industri Tekstil RI Berpeluang Nikmati Relokasi Investasi dari China Pascatarif Trump
Taufiek menambahkan bahwa saat ini sektor TPT mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,5%, yang diperkirakan akan meningkat seiring perbaikan ekosistem industri. Optimisme itu turut diperkuat oleh capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang menunjukkan kondisi ekspansif sebesar 3,5% pada Januari 2025.
“Menurut saya, tekstil itu sektor yang menyentuh semua usia, dari bayi sampai orang meninggal. Artinya, kita harus melihat sejauh mana kekuatan industri tekstil nasional. Dari sisi korporasi, kita sudah selesaikan banyak persoalan,” imbuhnya.
Terkait kerja sama IEU-CEPA, Kemenperin kini memprioritaskan aspek keberlanjutan dalam mendorong pertumbuhan sektor TPT. Salah satu langkah konkret adalah penggunaan bahan baku ramah lingkungan seperti polyester hasil daur ulang.
“IEU-CEPA ini lebih berat di aspek keberlanjutan dan green economy. Sekarang sudah banyak polyester dari daur ulang, seperti botol PET. Bahan baku itu dikumpulkan dan digunakan oleh pabrik benang polyester agar produknya bisa langsung ekspor ke Eropa,” ungkap Taufiek.

