Ditargetkan Rampung 2026, Bendungan Karangnongko di Perbatasan Jateng dan Jatim Beri Manfaat Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan Bendungan Karangnongko di perbatasan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dan Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Proyek strategis ini ditargetkan selesai pada 2026 untuk mendukung ketahanan pangan dan air Indonesia di samping sebagai pengendali banjir dan pembangkit listrik.
Bendungan Karangnongko mulai dibangun sejak 2023 oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Konstruksi dilakukan melalui dua paket pekerjaan dengan nilai kontrak mencapai Rp 1,26 triliun.
“Dengan selesainya pembangunan fisik bendungan, fokus selanjutnya percepatan pengembangan jaringan irigasi teknis untuk mendukung produktivitas pertanian,” kata Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (1/8/2025).
Baca Juga
Bendungan ini dirancang memiliki kapasitas tampung sebesar 59,1 juta meter kubik (m3) dan akan mengairi Daerah Irigasi (DI) Karangnongko Kiri di Kabupaten Blora seluas 1.746 hektare (ha) serta DI Karangnongko Kanan di Kabupaten Bojonegoro seluas 5.203 ha. Aliran air akan menggunakan debit masing-masing 2,85 m3 dan 7,90 m3/detik.
Bendungan juga akan menopang sistem irigasi teknis di kawasan Solo Valley Werken (jaringan irigasi), serta pengendali banjir peninggalan Belanda yang mencakup wilayah Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya seluas 62.000 ha.
“Sistem irigasi teknis yang dirancang akan memanfaatkan aliran Sungai Bengawan Solo untuk memastikan suplai air yang optimal, sehingga dapat meningkatkan intensitas tanam dan hasil panen tiap tahun,” jelas Dody.
Selain irigasi, lanjut Dody, bendungan ini dirancang untuk menyediakan suplai air baku sebesar 1.150 liter per detik, yang akan melayani kebutuhan air minum di wilayah Bojonegoro, Ngawi, Blora, dan Tuban. Jumlah ini diperkirakan mampu mencukupi kebutuhan sekitar 270.305 jiwa.
Baca Juga
Progres Bendungan Way Apu Rp 2,15 T Capai 80%, Ini Dampaknya bagi Ketahanan Pangan Maluku
Dikatakan Dody, bendungan dengan luas genangan mencapai 1.026 ha ini juga berfungsi sebagai pengendali banjir Sungai Bengawan Solo. Diperkirakan, proyek ini dapat mereduksi debit banjir hingga 760 hektare, khususnya di wilayah hilir, seperti Kabupaten Lamongan.
Kepala BBWS Bengawan Solo, Gatut Bayuadji menambahkan, Bendungan Karangnongko juga memiliki potensi sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT). Bendungan ini dirancang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan kapasitas 1 megawatt (MW).
“Nantinya juga berpotensi sebagai destinasi wisata berbasis air dan kuliner yang sejalan dengan pengembangan kawasan berbasis ekonomi lokal Kabupaten Bojonegoro maupun Blora,” pungkasnya.

