AI Bisa Tambah Rp 2.600 T ke Ekonomi Nasional, Ini Sektor yang Bisa Dioptimalisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan mampu menyumbang nilai tambah Rp 2.600 triliun ke ekonomi Indonesia dalam 5 tahun ke depan. Angka ini berasal dari optimalisasi sektor-sektor strategis, seperti pertanian, manufaktur, dan layanan publik.
Laporan Public First dalam acara diskusi Indef bertajuk "The AI Transformation: Catalyzing Indonesia’s Next Stage in Growth" mengungkap bahwa penggunaan AI juga bisa menghemat Rp 26 triliun anggaran layanan publik. Efisiensi ini datang dari automasi sistem administrasi, pengolahan data, dan pengambilan keputusan berbasis algoritma.
Baca Juga
“AI bisa bantu pemerintah memberikan layanan lebih cepat, akurat, dan transparan. Namun, pemanfaatannya harus inklusif, tidak hanya untuk kota besar,” kata Direktur Asia-Pasifik Robertsbridge, Adrian Suharto di Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Di sektor pertanian, teknologi AI, seperti pemetaan lahan dan prediksi cuaca berpotensi meningkatkan produktivitas dan efisiensi distribusi. Manfaat ekonominya bisa mencapai Rp 89 triliun jika diterapkan secara luas.
Sementara sektor manufaktur diproyeksikan mendapat efisiensi hingga Rp 500 triliun melalui penerapan AI dalam kontrol kualitas dan prediksi perawatan mesin. Hal ini akan memperkuat daya saing industri lokal dan ekspor.
“AI bukan soal menggantikan tenaga kerja, tetapi mempercepat pekerjaan agar lebih bernilai tambah,” ujar Adrian.
Baca Juga
Dorong Literasi Digital, Bank Aladin Syariah dan MUI Resmikan Kerja Sama Strategis
Ia menegaskan bahwa risiko pemutusan kerja akibat AI masih sangat kecil, hanya 5% pekerjaan yang benar-benar terancam otomatisasi.
Di bidang kesehatan, 67% masyarakat Indonesia terbuka terhadap penggunaan AI untuk diagnosis, seperti mendeteksi kanker paru-paru lewat X-ray berbasis AI. Hal ini membuka peluang layanan kesehatan menjangkau daerah terpencil dengan sumber daya terbatas.
Untuk memaksimalkan dampaknya, ia mendorong pemerintah memperluas akses pelatihan dan infrastruktur digital. Pasalnya, strategi nasional AI harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal agar inklusif dan berkelanjutan.

