Lucu, Gegara Danantara Sejumlah Direksi BUMN Sering Ketinggalan Tas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Transformasi pengelolaan BUMN oleh Danantara Asset Management bukan hanya membawa perubahan dalam struktur korporasi dan neraca keuangan, tetapi juga mengguncang budaya kerja yang selama ini mengakar dalam tubuh perusahaan negara. COO Danantara, Dony Oskaria, dengan nada bergurau menyampaikan bahwa banyak mantan direksi BUMN mengalami culture shock di lingkungan kerja baru mereka di Danantara.
“Di tempat saya direksi BUMN kalau pulang kantor suka ketinggalan tasnya. Balik lagi, ‘eh, saya ketinggalan apa ya?’ Ternyata karena biasanya dibawain tas. Sekarang mereka harus bawa sendiri,” ungkap Dony sambil tertawa, dalam kesempatan acara Chief Editors Gathering bersama para pemimpin media massa di Jakarta pada Jumat (25/7/2025).
Menurut Dony, kejadian itu menggambarkan betapa masifnya perubahan yang terjadi di Danantara, termasuk dalam hal budaya kerja. Semua orang bekerja secara profesional dan mandiri, tanpa perlakuan istimewa. “Tidak ada satu pun di Danantara yang bawain tas. Kita kerjakan sendiri-sendiri, profesional saja. Tidak ada seperti di BUMN yang selama ini ada,” tuturnya.
Namun di balik cerita jenaka tersebut, tersimpan refleksi atas persoalan besar yang selama ini membelit BUMN Indonesia. Sebelum adanya Danantara, BUMN beroperasi secara terpisah, berjalan seperti silo tanpa koneksi antarsatu sama lain. Setiap BUMN memiliki jalur pelaporan langsung ke Kementerian Keuangan, bukan ke sistem yang terintegrasi. Akibatnya, jika ada satu BUMN mengalami kesulitan, mereka tidak bisa mengandalkan bantuan dari BUMN lain.
Baca Juga
Maskapai Garuda Indonesia Bakal Sehat, Ini yang Dilakukan Danantara
“Banyak sekali program-program yang dihadapi satu BUMN tidak bisa diselesaikan melalui BUMN yang lain. Dan makin lama kalau kita perhatikan, semakin banyak aset kita yang terjual,” kata Dony. “Problem tiap BUMN akhirnya diselesaikan dengan menjual aset.”
Ia mencontohkan kondisi Krakatau Steel, yang pabriknya tinggal tersisa satu unit dan kembali beroperasi pada Desember 2024 lalu. Hal serupa terjadi di Indofarma dan Kimia Farma, yang menghadapi persoalan likuiditas serius. Di sisi lain, BUMN seperti BRI dan Mandiri mencetak laba puluhan triliun rupiah setiap tahun, namun tidak ada mekanisme antarperusahaan untuk saling membantu.
“Kenapa, tidak ada korelasinya dari satu sama lain? Karena masing-masing itu memiliki hubungan langsung ke Menteri Keuangan. Begitu mereka laba, diambil dividennya. Tapi begitu memperbaiki, mereka harus mengajukan PMN (Penyertaan Modal Negara),” ungkap Dony. “Dan basisnya pun tidak jelas. Dihitung dari business plan, tapi tidak pernah beres juga persoalannya.”
Dengan dibentuknya Danantara Asset Management, seluruh BUMN kini dikonsolidasikan ke dalam satu entitas. Dividen BUMN tidak lagi tersebar melainkan dikelola terpusat, memungkinkan eksekusi aksi korporasi dan restrukturisasi berjalan cepat dan terukur.
“Seluruh dividen dikelola di sini. Sehingga penyelamatan dengan mudah kita lakukan berdasarkan corporate action,” jelas Dony.
Baca Juga
Pandu Sjahrir: Danantara Ubah Kekhawatiran Jadi Kepercayaan, Beri Efek Positif di Pasar Modal
Ia mencontohkan penyelamatan Garuda Indonesia sebagai hasil dari pendekatan korporasi yang terstruktur. Restrukturisasi dilakukan bukan hanya lewat suntikan dana, tetapi juga melalui debt equity swap, injeksi aset, dan konsolidasi anak usaha. Citilink, misalnya, mengonversi utangnya ke Pertamina menjadi saham, lalu mendapat tambahan modal dari penggabungan dengan Pelita Air. GMF AeroAsia tak lagi menyewa lahan dari Angkasa Pura karena lahan tersebut kini menjadi bagian dari modal.
“Di neraca konsolidasi, sama saja. Tapi perusahaannya menjadi sehat,” ujarnya.
Danantara juga memfasilitasi penyelesaian sengketa antarBUMN, yang sebelumnya mencapai ribuan klaim dengan nilai transaksi ratusan triliun rupiah. Kini, karena seluruh BUMN berada dalam satu entitas, penyelesaian sengketa menjadi cepat dan profesional.
Transformasi ini, menurut Dony, tidak hanya soal keuangan atau struktur bisnis. Lebih dalam lagi, ini adalah perubahan budaya. Ia menyebutkan bahwa Danantara saat ini sedang dalam tahap menggulirkan kampanye perubahan budaya besar-besaran.
“Kita akan keluarkan campaign yang way too fundamental. Menyebabkan ini akan men-transformasi culture daripada pengelolaan BUMN kita ke depan,” pungkas Dony.
Perubahan yang dicanangkan ini merupakan bagian dari 21 program prioritas yang harus diselesaikan dalam lima bulan ke depan. Termasuk di antaranya restrukturisasi Garuda, Krakatau Steel, rumah sakit milik BUMN, dan sektor asuransi. Target akhirnya adalah pengurangan jumlah BUMN dari 1.046 entitas menjadi 228 perusahaan berskala besar dan sehat secara finansial.

