Angkut 27 Juta Ton Batu Bara, Ini Strategi KAI untuk Logistik Berkelanjutan
Poin Penting
|
BOGOR, investortrust.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatatkan peningkatan volume angkutan batu bara sepanjang semester I 2025 sebanyak 27,62 juta ton, naik 5% dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 26,21 juta ton. KAI punya strategi besar untuk angkutan logistik berkelanjutan, yakni menggunakan bahan bakar biosolar B40.
Angkutan batu bara masih menjadi tulang punggung logistik perusahaan, menyumbang 82,92% dari total volume angkutan barang KAI pada semester I 2025 yang mencapai 33,31 juta ton.
"Pertumbuhan ini menegaskan kepercayaan stakeholder terhadap KAI sebagai mitra logistik berkelanjutan," kata Vice President Public Relations KAI, Anne Purba dalam keterangan tertulis, Rabu (16/7/2025).
Baca Juga
Selama semester pertama tahun ini, tambah Anne, tingkat ketepatan waktu keberangkatan kereta barang tercatat sebesar 96,76%, sedangkan ketepatan waktu kedatangan mencapai 90,13%.
Dikatakan Anne, KAI menargetkan pertumbuhan volume angkutan barang sebesar 15% hingga 2029. Target tersebut mencakup 111,2 juta ton batu bara dan 10,9 juta ton untuk komoditas non-batu bara. Untuk mendukungnya, KAI tengah memperkuat simpul logistik strategis, terutama di Sumatra bagian selatan.
Beberapa proyek yang tengah dikembangkan, antara lain Terminal Tarahan II yang diproyeksikan menyerap 18 juta ton batu bara dan fasilitas bongkar-muat di Kertapati dengan tambahan kapasitas hingga 7 juta ton.
"Secara keseluruhan, wilayah Sumatera Selatan diproyeksikan memberikan kontribusi tambahan volume sebesar 27,8 juta ton, menjadikannya sebagai pilar utama dalam peta logistik masa depan KAI," tutur Anne.
KAI juga menyatakan siap mendukung kebijakan pemerintah terkait penghapusan truk over dimension over loading (ODOL) 2026, dengan memperkuat peran kereta api sebagai moda angkutan logistik berkapasitas besar dan beremisi rendah.
Baca Juga
Cetak Okupansi 118,7%, 4,4 Juta Tiket KAI Terjual Saat Liburan Sekolah
KA ramah lingkungan
Seiring peningkatan volume angkutan, KAI juga mengupayakan transisi energi yang lebih bersih. Sejak Februari 2025, lanjut Anne, seluruh lokomotif dan genset KAI telah menggunakan bahan bakar biosolar B40, yang mengandung 40% bahan nabati. Langkah ini merupakan kelanjutan uji coba bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak Juli 2024.
Penggunaan biosolar B40 mendukung upaya penurunan emisi karbon dan menjadikan angkutan kereta api sebagai moda logistik yang lebih ramah lingkungan.
"Melalui layanan andal, efisien, dan ramah lingkungan, KAI menghadirkan solusi logistik yang selaras dengan visi perusahaan menggerakkan transportasi berkelanjutan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat," pungkas Anne.

