DPR Soroti 'Lifting' Migas 2025, Ini Strategi Pemerintah dan Pertamina Hadapi Tantangan Produksi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Komisi XII DPR menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama Dirjen Migas Kementerian ESDM, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, dan Pertamina.
Rapat membahas asumsi makro sektor ESDM yang realistis dan adaptif terhadap dinamika global serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya mengatakan, sektor migas memegang peranan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menjadi salah satu kontributor utama penerimaan negara.
Baca Juga
PHE Raup Rp 19,4 Triliun dari 4 Bank Global untuk Jaga Likuiditas dan Pacu Bisnis Hulu Migas
"Namun, hal itu juga dihadapkan pada tantangan mulai lifting migas yang belum optimal hingga kebutuhan efisiensi pengelolaan blok migas," kata dia di ruang rapat Komisi XII DPR di Jakarta, Senin (30/6/2026).
Dalam kesempatan yang sama, pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Plt Dirjen MIgas) Kementerian ESDM Tri Winarno menyampaikan komitmennya untuk mencapai target lifting produksi migas.
“Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menerapkan sejumlah strategi dalam peningkatan produksi migas, di antaranya optimalisasi lapangan produksi dan reaktivasi sumur dan lapangan idle atau lapangan yang sudah tidak berproduksi," ujar Tri.
Direktur Logistik dan Infrastruktur PT Pertamina Jaffee Arizon Suardin menyampaikan bahwa tantangan operasi produksi 2025 utamanya disebabkan natural decline sekitar 21% setiap tahunnya. "Pertamina secara oil equivalent per day, prognosa di akhir 2025 ini diperkirakan akan naik 3%," ungkap Jaffee.
Adapun beberapa upaya yang telah dilakukan Pertamina dalam meningkatkan lifting migas, seperti perencanaan optimalisasi sumur dengan penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR), pembukaan beberapa sumur baru hingga akuisisi lapangan migas di luar negeri melalui subholding upstream Pertamina, Pertamina Hulu Energi.
Pertamina saat ini berkontribusi 69% terhadap produksi minyak nasional dan 37% terhadap produksi gas nasional.
Pada 2025, melalui subholding upstream, Pertamina berhasil mencatatkan produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 1,04 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD) hingga Mei 2025, yang terdiri dari produksi minyak 559 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas 2.800 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Selain itu, Pertamina juga berhasil menyelesaikan pengeboran lima sumur eksplorasi, 341 sumur pengembangan, 523 kegiatan workover dan 15.424 kegiatan well services.
Baca Juga
Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Naik per 1 Juli 2025, Ini Daftar Terbarunya
Sepanjang 2025, Pertamina Hulu Energi berhasil mencatatkan capaian strategis baik portfolio domestik maupun overseas. Adapun pada 2025 telah dibukukan sejumlah sumber daya migas baru yang menjanjikan baik konvensional maupun migas non-konvensional dengan total potensi migas terambil atau sumber daya 2C sebesar 767 juta barel setara minyak (MMBOE). Tak hanya itu, PHE mencatatkan penambahan cadangan P1 migas sebesar 40,9 MMBOE.
Keberhasilan operasional pengeboran sumur di onshore Jawa Barat (EPN-002) dan akuisisi 3D seismik pada beberapa wilayah kerja onshore Sumatera, termasuk penandatanganan kontrak bagi hasil Wilayah Kerja (WK) Melati dan WK Binaya yang merupakan hasil lelang WK tahap I dan II tahun 2024. Hingga Mei 2025, PHE telah melakukan survei seismik 3D seluas 452 kilometer persegi.

