Minyak Dunia Naik-Turun, Bahlil: Kalau Lewati US$ 82 Ada Perhitungan Baru, Kita Berdoa Saja
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut pergerakan harga minyak dunia sejauh ini masih terpantau aman, meski bergerak fluktuatif alias naik-turun imbas konflik bersenjata Iran dengan Israel. Jika melewati asumsi APBN US$ 82 per barel, pemerintah dan masyarakat hanya bisa berdoa.
Dia menerangkan, dalam asumsi APBN, untuk harga minyak dipatok sebesar US$ 82 per barel. Sedangkan selama ketegangan Iran-Israel, harga minyak mentah tertinggi masih berada di kisaran US$ 80 per barel.
"Artinya secara APBN itu bagus sebenarnya. Namun, kalau sudah di atas US$ 82 per barel, itu pasti kan ada perhitungan baru," kata Bahlil saat konferensi pers acara "Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 Lemhannas", di Jakarta Selasa (24/6/2025).
Baca Juga
Minyak Ambles 7%, Investor Lega Konflik Tak Meluas ke Hormuz
Dia tidak memungkiri bahwa sempat terjadi kekhawatiran saat konflik bersenjata Iran-Israel mengalami eskalasi. Kondisi tersebut membuat para menteri ekonomi dan menteri energi dari berbagai negara saling berkomunikasi, termasuk dirinya.
Menurut Bahlil, jika kemungkinan buruk konflik semakin memanas hingga harga minyak melambung tinggi, maka yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat Indonesia hanya berdoa.
"Katanya harga minyak akan potensi naik, melebihi asumsi di dalam APBN. Saya katakan berdoa saja. Karena hanya doa dan ikhtiar kita secara internal, yang bisa menyelamatkan kita. Kita doakan saja agar perang ini selesai. Supaya harganya bisa stabil," ujar mantan Menteri Investasi tersebut.
Bahlil menilai, dalam kondisi seperti ini, Indonesia tidak bisa berharap pada negara lain. Sebab, hampir semua negara juga memikirkan diri mereka masing-masing. Maka dari itu, penting untuk memiliki ketahanan energi.
Baca Juga
Pada Selasa (24/6/2025), harga minyak dunia jatuh ke level terendah dalam 2 minggu, setelah Israel menyetujui proposal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk gencatan senjata dengan Iran.
Kondisi ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah, sebagai wilayah penghasil minyak utama dunia. Minyak mentah jenis Brent turun US$ 3,82 atau 5,3% menjadi US$ 67,66 per barel.
"Kemarin sudah di US$ 79, sekarang US$ 67 (per barel). Wah ini semakin baik lagi gitu. Namun, satu hal saya menyampaikan bahwa dinamika di Timur Tengah sampai saat ini, saya mengikuti perkembangannya dengan jaringan yang saya punya, masih dinamis, naik turun. Jadi apa yang hari ini terjadi belum tentu besoknya seperti ini. Kita lihat perkembangannya lagi, baru kemudian kita bisa melakukan kajian," ucap Bahlil.

