Pertamina NRE dan LONGI Bangun Pabrik Panel Surya 1,4 GW di Bekasi
JAKARTA, Investortrust,id – PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), subholding power & new renewable energy bekerja sama dengan LONGi Green Technology Co, Ltd, meluncurkan proyek strategis pembangunan fasilitas manufaktur panel surya (photovoltaic/PV) di Indonesia berkkapasitas produksi 1,4 GW per tahun.
Inisiatif ini mendukung komitmen Pemerintah Indonesia terhadap pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dan bertujuan memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap modul solar PV di dalam negeri dan Asia Tenggara.
Baca Juga
Pacu pengembangan PLTS dan PLTB, Pertamina NRE Akuisisi 20% Citicore Filipina Rp 1,9 Triliun
Dalam sambutannya CEO Pertamina NRE John Anis menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak penting transisi energi di Indonesia. “Dengan membangun kapasitas manufaktur lokal, kami ingin memperkuat rantai pasok solar PV dalam negeri, menurunkan biaya produksi, dan menciptakan lapangan kerja hijau yang berkeahlian tinggi,” tambah John di Bekasi, Senin (23/6/2025).
Fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 1,4 GW per tahun dan akan menggunakan teknologi terbaru dari LONGi sebagai pemimpin global dalam manufaktur solar PV, Hybrid Passivated Back Contact (HPBC) 2.0 tipe N yang dapat menghasilkan modul surya berdaya efisiensi tinggi.
Lokasi proyek solar pv ini berada di Deltamas, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, merupakan wilayah strategis yang memudahkan distrbusi dan rantai pasok dalam proses produksinya. Fasilitas ini nantinya diharapkan dapat menyerap tenaga lokal dan meningkatkan perekonomian nasional.
Menurut Dirjen EBTKE Kementrian ESDM Eniya Listiani, proyek strategis ini akan mendukung proses transisi energi di Indonesia, yang menargetkan bauran energi hingga 34,3% hingga 2034. Enia berharap proyek ini dapat berjalan lancar sehingga dapat mendukung RUPTL dengan target tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW).
“Dari target tersebut, 61% atau 42,6 GW berasal dari pembangkit EBT” terang Enia.
Dalam sambutannya , Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal, Kementrian Investasi/BKPM Edy Junaedi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kontribusi LONGi dan Pertamina NRE yang tidak hanya meningkatkan kapabilitas manufaktur Indonesia, tetapi mengintegrasikan Indonesia ke dalam rantai pasok global dalam industri energi baru terbarukan.
“Hal ini akan memperkuat dan meningkatkan kolaborasi kedua negara dalam mempercepat transisi energi” ujar Edy.
Baca Juga
Menurut data Kementerian Perindustrian, kemampuan produksi panel surya dalam negeri saat ini baru sebesar 1.6 GWp per tahun, sehingga dengan proyek ini akan meningkatkan kemampuan produksi nasional hingga 3 GWp agar nantinya dapat mendukung penambahan PLTS sesuai target pemerintah sebesar 300-400 GWp di tahun 2060.
Menurut VP Longi Global Dennis She, kerja sama ini merupakan peluang bagi Longi dalam mengembangkan bisnis dalam industri energi di Asia Tenggara. “Dengan kerja sama ini kami harap bisa terus mendukung target transisi energi di Indonesia dengan saling berbagi pengetahuan dan teknologi dalam industri solar pv,” ujar Dennis
Pemerintah Indonesia telah memiliki peta jalan tentang potensi peningkatan permintaan solar PV hingga 2035, sehingga proyek ini potensial dan akan mendukung realisasi pengembangan proyek PLTS dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) “terhijau”, mendukung pengembangan industri supply chain, seperti solar cell serta mendukung pengembangan proyek hidrogen hijau (green hydrogen) ke depannya.

