Transisi Energi Indonesia Tertinggal karena Fosil Masih Jalan meski EBT 'Ngebut'
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan alasan di balik tertinggalnya Indonesia dibandingkan negara lain dalam melakukan transisi energi. Penyebab utamanya karena Indonesia masih membangun pembangkit fosil.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebutkan, pemerintah sejatinya berkomitmen melakukan transisi energi untuk mencapai net zero emission (NZE) 2060. Hal ini bisa dilihat dari mulai banyak dikembangkannya pembangkit-pembangkit EBT.
Baca Juga
Indonesia Kejar Target EBT 20% di 2025, Ini Strategi dan Skema Pendanaan Inovatifnya
Kendati demikian, Eniya tidak memungkiri bahwa pembangunan pembangkit fosil juga masih terus berjalan. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat persentase bauran EBT nasional sulit untuk menanjak.
“Kenapa selalu tertinggal? Kita EBT-nya tumbuh, tetapi memang kejar-kejaran sama yang masih fosil dan lain sebagainya. Memang masa transisi ini perlu distrategikan,” kata Eniya dalam diskusi bertema ‘Mengelola Transisi Energi’ di Jakarta, Rabu (18/6/2025).
Dia mengungkapkan, saat ini bauran EBT nasional berada di angka 14,68%. Sementara itu, target yang tercantum dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) untuk 2025 sebesar 17% untuk target minimumnya dan 20% target tertinggi.
“Bauran per hari ini 14,68%, mau 15%. Mungkin bulan ini sudah 15% lebih. Masalahnya, kita itu tidak ada transmisi,” beber Eniya.
Eniya memaklumi lambatnya pertumbuhan EBT ini mengingat Indonesia masih belum bisa terbebas dari energi fosil. Menurutnya, ini bukan hal buruk mengingat negara-negara lain, seperti China masih menggunakan energi fosil. Terlebih, penggunaan energi fosil juga untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Kalau lihat China, dia itu fosil iya, EBT iya. Ladang solarnya gede banget, lalu fosilnya juga. Ekspor kita batu bara terbesar ke China. Nah, mereka juga mengolah di sana. Namun, itu untuk men-support industri manufaktur yang melahirkan EBT,” ucapnya.
Baca Juga
Bauran EBT Ditarget 34,3% pada 2034, RUPTL Jadi Faktor Penting
Maka dari itu, dia menegaskan bahwa yang terpenting adalah harus ada keseimbangan antara pemakaian sumber daya dan kebutuhan untuk komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, ditargetkan penambahan kapasitas sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW akan berasal dari EBT, 16,6 GW dari fosil, dan 10,3 GW storage.

