Negosiasi Cerah! RI Siap Ekspor Listrik Bersih ke Singapura Asal Untung Dua Arah
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, negosiasi ekspor listrik bersih ke Singapura sudah mulai menemui titik terang. Meski begitu, masih akan dilakukan perundingan lagi.
“Dalam waktu cepat, tidak lama lagi, sudah mulai ada tanda-tanda cahaya untuk kesepakatan. Sekarang sudah sama-sama mulai insaf (sadar). Kita sadar, mereka sadar. Sudah sama-sama baik,” ujar Bahlil di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/5/2025).
Baca Juga
Kementerian ESDM Ngaku Belum Tahu soal Diskon Tarif Listrik 50% Bulan Juni-Juli
Bahlil menerangkan bahwa Indonesia selalu berusaha menjalin hubungan baik dengan negara-negara tetangga dalam pergaulan internasional. Maka dari itu, pemerintah tak masalah untuk membantu Singapura yang membutuhkan listrik bersih.
Kendati demikian, dia menekankan bahwa dalam sebuah kerja sama harus memiliki prinsip timbal balik. Menurutnya, Singapura harus memberikan feedback yang layak untuk Indonesia.
“Yang namanya saling bantu itu adalah kita bantu dia, dia bantu kita. Bukan kita saja terus yang bantu dia. Hanya dia yang senang sendiri. Sekarang tim saya lagi bernegosiasi, apa yang negara-negara lain yang mau menerima ekspor listrik dari kita itu yang akan berikan kepada negara kita,” tegasnya.
Mantan Menteri Investasi tersebut menyampaikan, jika ada negara lain yang membutuhkan listrik bersih dari Indonesia, maka harus dibuat perjanjian jelas. Dia tidak mau kesepakatan hanya untuk menguntungkan sekelompok orang atau perusahaan terntu, sedangkan negara dirugikan.
Baca Juga
Pertamina Hulu Indonesia Amankan Pasokan Gas Jumbo untuk Listrik Nasional hingga 2027
“Jangan bicara orang per orang, aku tidak mau. Jangan bicara perusahaan per perusahaan. Ini negara. Jangan kita gadaikan negara ini hanya karena urusan satu dua perusahaan atau satu kelompok orang. No. Saya sudah ngomong sama Pak Dirut PLN. Ini urusan negara,” kata Bahlil.
Pemerintah bersama dengan PT PLN (Persero) sejatinya telah menyusun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode 2025-2034. Dalam rancangan ini, dalam 10 tahun mendatang Indonesia ditargetkan memiliki penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW).

