IBC Dorong Penguatan Kolaborasi Bisnis dan Perdagangan Negara-negara Asia Afrika
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesian Business Council (IBC) mendorong penguatan kerja sama bisnis antara negara-negara di wilayah Asia dan Afrika sebagai langkah strategis menghadapi dampak ketegangan perdagangan global. Langkah ini dinilai tepat di tengah penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat yang diumumkan Presiden Donald Trump pada awal April lalu, yang membuat meningkatnya risiko perang tarif yang bisa berujung pada aksi proteksionisme dan pelemahan ekonomi global.
Disampaikan oleh Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid dalam dialog bersama perwakilan negara-negara Asia dan Afrika dalam peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika Bandung di Jakarta, Selasa (22/4/2025), perekonomian di kedua kawasan memiliki potensi yang sangat besar dari sisi kontribusi GDP dan laju pertumbuhan, sehingga kerjasama yang solid akan mengimbangi ketidakpastian global.
“Indonesia harus aktif merespon tantangan perdagangan internasional melalui diversifikasi kemitraan ekonomi. Asia dan Afrika bukan hanya pasar baru, melainkan mitra strategis dengan kedekatan sejarah, ideologi dan tujuan yang selaras dengan Indonesia,” kata Arsjad.
Ia juga menggarisbawahi peran Afrika sebagai mitra strategis bagi Indonesia. Kawasan ini memiliki prospek yang besar dalam hal bonus demografi serta potensi energi terbarukan yang besar. Sedangkan Asia telah lebih dulu mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat melalui perdagangan dan industrialisasi.
IBC meminta agar pemerintah negara-negara di Asia dan Afrika menguatkan komitmen untuk membangun tatanan dunia yang stabil, adil, dan damai sehingga perekonomian dunia dapat tumbuh dan berkembang dalam iklim kompetisi yang sehat.
IBC menyelenggarakan jamuan makan malam guna merefleksikan warisan Konferensi Asia-Afrika 1955 dan relevansinya di tengah perubahan tatanan global saat ini. Acara ini dihadiri sejumlah duta besar dan perwakilan negara-negara Asia dan Afrika serta para pemimpin bisnis Asia dan Afrika.
Tampak hadir Duta Besar Tunisia untuk Republik Indonesia Mohamed Trabelsi, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, hingga Duta Besar Tanzania untuk Indonesia Machoca Tembele. Ketiganya pun memberikan pernyataan mengenai pentingnya sebuah kolaborasi di tengah meningkatnya potensi perang tarif.
Baca Juga
IBC Usulkan 4 Langkah Strategis Memitigasi Tarif dari Amerika Serikat
Pelaku bisnis Indonesia menunjukkan minat dan keinginan untuk melakukan ekspansi bisnis tidak hanya di pasar Asia, tapi juga di Afrika. Karena itu IBC mengambil langkah konkret yang sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperluas mitra dagang dan investasi. Pada acara ini, IBC mempertemukan para pemangku kepentingan dengan pelaku bisnis untuk menjajaki peluang kerjasama di berbagai sektor.
“Saat ini merupakan momentum yang sangat baik karena kondisi ekonomi global memaksa pelaku bisnis untuk diversifikasi dan mencari lebih banyak mitra dagang baru,” kata Arsjad.
Duta Besar India untuk RI Sandeep Chakravorty mengatakan 70 tahun sejak diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika, dunia telah mengalami kemajuan ekonomi dan teknologi yang signifikan. Namun saat ini dunia kembali menghadapi tantangan geopolitik.
“Pelajaran dari KAA dalam hal ini masih sangat relevan. Di era di mana dunia semakin terpolarisasi, kebutuhan akan kesatuan di antara negara-negara berkembang semakin kritikal. Sudah saatnya kita membawa semangat KAA Bandung, mendorong kolaborasi yang lebih kuat di antara negara-negara Global South,” kata Sandeep.
Hadir Wakil Menteri Luar Negeri RI Arie Havas Oegroseno, yang ikut menandatangani kanvas penanda terwujudnya kolaborasi antara sejumlah negara-negara Asia dan Afrika.

