Anindya: Tiga Desain Ekonomi Indonesia Sudah Tepat
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menekankan pembangunan tiga desain dan pilar ekonomi Indonesia yang berada di jalur yang tepat, di tengah ketidakpastian global.
Hal itu diungkapkan Anindya saat berbicara pada HSBC Summit 2025 bertajuk "Transforming Indonesia: Redefining Growth, Reimagining Future" di The Ritz-Carlton, Jakarta Pacific Place, Jakarta, Selasa (22/4/2025).
Dalam gelaran yang berupaya untuk menggerakkan para pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan menyalakan masa depan cemerlang yang menekankan praktik-praktik berkelanjutan dan ketahanan ekonomi ini, Anindya tampil pada diskusi sesi kedua yang bertajuk "Reimagining Indonesia's Global Competitiveness".
Anindya menguraikan, ada tiga plan atau rencana yang menurutnya sudah berada di jalur yang benar di tengah berbagai gejolak pada masa transisi yang dialami Indonesia saat ini. Ketiganya menjadi pilar ekonomi Indonesia yang penting.
Rencana atau pilar pertama adalah fokus mengembangkan ekonomi domestik. "Kita fokus untuk mengembangkan ekonomi domestik karena punya konsumsi domestik sekitar 55- 60%, yang artinya cukup resilien," ujar Anindya.
Meski begitu, Anindya menegaskan bahwa konsumsi domestik ini mesti dikembangkan, karena efek perang dagang yang terjadi saat ini dapat membuat 2,1 juta pekerja berada dalam risiko.
"Ada 2,1 juta pekerja yang at risk kalau misalnya ada apa-apa. Dan ini cukup besar, kenapa? Karena setiap tahun untuk kita mempertahankan 5-6% pertumbuhan ekonomi dibutuhkan 2-3 juta tenaga kerja. Jadi kalau 2 juta ada apa-apa itu berat. Jadi ekonomi dan konsumsi domestik mesti ditingkatkan," ungkap Anindya.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Sebut Indonesia Punya Peran Strategis Jaga Keseimbangan Perdagangan Global
Anindya menilai bahwa kebijakan pemerintah Indonesia adalah mendorong konsumsi domestik dengan program-program yang membawa pemerataan lebih baik, seperti makan bergizi gratis (MBG), pemeriksaan kesehatan gratis (PKG), perumahan layak huni dan terjangkau, dan program tenaga kerja migran.
"Mungkin teman-teman sudah tahu tenaga kerja migran kita ini ada 5 juta yang menghasilkan devisa setara Rp 250 triliun. Nah ini angka besar sekali, bisa bayangkan kalau misalnya permintaan yang masih banyak di luar negeri, kita bisa berikan dan bukan hanya domestic workers, tapi juga upskill workers, ini jumlahnya sangat besar untuk kita meningkatkan devisa," jelas Anindya.
Rencana pilar kedua adalah mengembangkan pasar ekspor alternatif, misalnya ke Turki, Qatar, India, juga Brasil. Menurut Anindya, pasar-pasar tersebut memiliki potensi yang sangat besar.
"Turki misalnya itu besar sekali untuk minyak sawit kita. Contoh kedua Qatar, kemarin mereka mau taruh US$ 2 miliar ditambah US$ 2 miliar untuk bikin bisnis dengan Danantara," ucap Anindya.
Plan atau pilar ketiga adalah perlunya Indonesia mengembangkan ekonomi regional atau ekonomi daerah. Contohnya dengan mengoptimalkan potensi ekonomi biru di Indonesia timur.
"Di NTT contohnya selain dari turisme, kita melihat bahwa potensi perikanan itu sangat besar. Nah ini nyambung sekali dengan kunjungan misalnya waktu itu Vietnam datang bersama Sekretaris Partai Komunisnya di sini. Nah salah satu yang dibicarakan adalah mengenai fisheries, atau dalam hal ini lobster. Nah, selama ini banyak yang ekspor, banyak yang illegal juga, ada yang legal juga ialah benur lobster. Bisa bayangkan lobster ini huge market di dunia. Kita bisa ajak teman-teman dari Vietnam untuk mengembangkan misalnya di Nusa Tenggara Timur, lalu kita bisa ekspor ke pasar Amerika," ucap Aninda.
Baca Juga
Anindya Bakrie Pimpin Rombongan Pengusaha Jajaki Kolaborasi dengan Arab Saudi
Sebagai tambahan informasi, pada tahun 2025, Indonesia berada di ambang pertumbuhan transformatif, siap untuk meningkatkan ekonominya dan mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi. HSBC Summit 2025 mempertemukan para pemuka pemikiran, pembuat kebijakan, pakar industri, dan pemimpin bisnis visioner di bawah satu atap untuk mendorong momentum ini ke depan.
Di bawah tema yang kuat, "Transforming Indonesia: Redefining Future, Reimagining Future", Summit tersebut menunjukkan ambisi Indonesia untuk membentuk masa depan yang berkembang dan berkelanjutan yang menghormati warisannya yang kaya sembari merangkul inovasi.

