DPR Ungkap Penyebab Hilirisasi Batu Bara ke DME Mandek
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya tidak memungkiri bahwa hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) masih belum maksimal. Salah satunya karena, teknologi untuk melakukan hilirisasi baru bara ke DME masih mahal.
Menurut dia, pemerintah sudah melakukan upaya terbaik untuk mendorong hilirisasi batu bara ke DME tersebut melalui regulasi yang dibuat. Namun, kondisi harga batu bara global juga menjadi faktor yang memengaruhi berjalannya hilirisasi ini.
Baca Juga
Perang Dagang Bergejolak, Bahlil Fokus Lifting Migas dan Hilirisasi
"DME itu kan kemarin terkait dengan persoalan teknologinya masih kemahalan. Apalagi pada saat itu, 2-3 tahun yang lalu ketika kita lagi marak bicara DME, harga batu bara juga lagi tinggi," kata Bambang saat ditemui di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (15/4/2025).
Lebih lanjut, Bambang juga menanggapi rencana pemerintah yang ingin mendorong hilirisasi batu bara ke arah hidrogen. Bambang meyakini hal itu tidak akan membuat hilirisasi batu bara menjadi DME ditinggalkan.
"Saya pikir ini dua hal yang berjalan masing-masing. Tidak bisa kita bilang kita off ini, kita on yang ini. Kita juga belum tahu teknologi dan cost di dalam memproduksi hidrogen dari batu bara itu berapa, kan kita belum tahu ini, jadi belum bisa berandai-andai," ucapnya.
DPR, dikatakan Bambang, mendukung segala bentuk hilirisasi batu bara tersebut. Apalagi, batu bara yang selama ini dikenal sebagai energi kotor justru bisa dimanfaatkan menjadi energi baru terbarukan (EBT) lewat hilirisasi ini.
Baca Juga
AS Beralih ke Batu Bara, Indonesia Targetkan Punya Pembangkit Panas Bumi Terbesar Dunia
"Iya dong, pasti (mendukung). Kita tuh gini lho ya, terutama, ini kabarnya ya, terutama sejak Amerika bilang keluar dari Paris Agreement, saya bilang oke. Komisi XII mendukung pemerintah tetap kepada pencapaian net zero emission," ungkap Bambang.

