Ekonom Soroti Alasan Indonesia Kalah dari Thailand dalam Investasi Pusat Data
JAKARTA, investortrust.id – Thailand kembali menarik investasi besar untuk pembangunan pusat data di Asia Tenggara. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengapa Indonesia masih kalah saing dengan Negeri Gajah Putih dalam menarik investasi serupa.
Diketahui, Thailand baru saja mendapatkan investasi sebesar 90,9 miliar baht (sekitar Rp43 triliun) untuk pengembangan pusat data dan layanan komputasi. Selain itu, TikTok juga mengumumkan rencana investasi senilai 126,8 miliar baht untuk layanan penyimpanan data di negara tersebut.
Tahun lalu, Google menanamkan investasi sebesar US$1 miliar di Thailand, disusul Amazon Web Services yang berkomitmen menggelontorkan dana US$5 miliar dalam 15 tahun ke depan. Keberhasilan Thailand dalam menarik investor global ini semakin mempertegas posisinya sebagai pusat infrastruktur digital di kawasan.
Inovasi dan SDM Jadi Faktor Penentu
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai bahwa inovasi menjadi salah satu faktor kunci dalam daya saing investasi pusat data. Ia juga menyoroti bahwa Thailand lebih unggul dibandingkan Vietnam dalam indeks inovasi di Asia Tenggara.
Baca Juga
Lagi! Thailand Dapat Investasi Baru Rp43 Triliun untuk Bangun Pusat Data
"Posisi ini menunjukkan bahwa Thailand lebih menarik bagi investor yang mengutamakan ekosistem inovasi dalam pengembangan pusat data," jelas Huda kepada investortrust.id, Rabu (19/3/2025).
Berdasarkan Global Innovation Index (GII) 2024, Indonesia menempati peringkat ke-54 dengan nilai 30,6 poin. Sementara itu, Thailand berada di posisi ke-41 dengan nilai 36,9 poin, yang mencerminkan keunggulan mereka dalam membangun ekosistem inovasi yang lebih kondusif.
Selain inovasi, kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga berperan penting dalam menentukan daya saing investasi. Huda mencatat bahwa Human Capital Index (HCI) Indonesia masih tertinggal dibandingkan Thailand, yang berakibat pada rendahnya daya tarik sektor teknologi di Tanah Air.
Tantangan Energi dan Risiko Bencana
Selain faktor inovasi dan SDM, ketersediaan energi menjadi tantangan besar bagi Indonesia dalam menarik investasi pusat data. Pasokan listrik yang belum stabil serta risiko bencana alam seperti gempa bumi dan banjir menjadi pertimbangan utama bagi investor.
"Ada faktor tentang kesiapan mengenai energi yang juga harus ditingkatkan jika ingin mengembangkan data center. Indonesia masih tidak stabil untuk supply listrik. Bahkan juga rawan terhadap bencana," ungkap Huda.
Untuk meningkatkan daya tarik investasi pusat data, Huda menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah. Perbaikan infrastruktur, kebijakan insentif investasi, serta peningkatan kualitas SDM menjadi hal yang perlu segera dilakukan.
"Maka demikian, memang pemerintah harus mengantisipasi permasalahan tersebut jika ingin menaikkan minat investasi perusahaan teknologi di Indonesia," harapnya. (C-13)

