Komdigi dan BKPM Sepakat Percepat Digitalisasi dan Investasi Telekomunikasi
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sepakat memperkuat sinergi dalam mendorong pertumbuhan sektor telekomunikasi dan digital di Indonesia. Salah satu langkah strategisnya adalah menarik lebih banyak investasi guna mempercepat digitalisasi dan meningkatkan konektivitas nasional.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan pemerataan akses internet menjadi prioritas utama dalam transformasi digital.
Baca Juga
Menkomdigi: Platform Digital Harus Lebih Ketat Lindungi Anak Indonesia
"Kami berkomitmen mempercepat akses internet agar manfaat ekonomi digital dapat dirasakan secara merata,” ujar Meutya dalam pertemuan dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, di Jakarta, Rabu (12/3/2025).
Menurut Meutya, tantangan utama masih berkisar pada terbatasnya konektivitas di berbagai sektor penting. Saat ini, 86% sekolah belum memiliki fixed broadband, 38% kantor desa belum terhubung internet, dan 75% puskesmas masih memiliki koneksi yang tidak memadai.
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, investasi di bidang pendidikan, sains, teknologi, serta digitalisasi harus terus didorong. Komdigi bertanggung jawab dalam akselerasi digitalisasi pemerintahan, ekonomi, dan SDM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional hingga 7-8% sesuai visi Indonesia Digital 2045.
Sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang berorientasi pada investasi strategis, Danantara pun diharapkan dapat mendukung ekosistem digital nasional.
“Investasi dalam infrastruktur jaringan dan teknologi 5G sangat penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia,” ujar Rosan.
Untuk mempercepat adopsi 5G, Komdigi juga mengusulkan penerapan multi-operator core network (MOCN), seperti yang telah diterapkan di Malaysia. Model ini memungkinkan operator berbagi infrastruktur guna mempercepat ekspansi jaringan dan menekan biaya investasi.
Pemanfaatan infrastruktur milik PLN juga menjadi solusi strategis dalam memperluas jaringan telekomunikasi. Dengan menggunakan tiang listrik PLN untuk distribusi serat optik, biaya investasi dapat ditekan hingga 67% dan mempercepat penetrasi internet secara efisien.
“Implementasi 5G yang optimal dapat mengurangi total cost of ownership (TCO) hingga 54% dibandingkan dengan 4G,” kata Meutya.
Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat menghadirkan jaringan yang lebih cepat, andal, dan sesuai dengan kebutuhan industri serta masyarakat.
Sekadar informasi, pemerintah berencana segera merilis pita frekuensi 2,6 GHz pada 2025, meski masih menghadapi gugatan dari MNC Group di PTUN. Sementara itu, pita 3,5 GHz yang merupakan spektrum utama 5G global masih digunakan untuk layanan satelit hingga 2034.
Baca Juga
Melalui strategi migrasi spektrum yang terkoordinasi, investasi digital diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi digital nasional.
“Dengan pemanfaatan aset BUMN yang optimal, kita dapat mewujudkan infrastruktur digital yang lebih merata dan inklusif,” kata Meutya. (C-13)

