Bos Nvidia Sebut Pasar Salah Menilai Dampak DeepSeek R1, Mengapa?
CALIFORNIA, investortrust.id - Pendiri sekaligus CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan bahwa pasar keliru dalam menilai dampak kemajuan teknologi DeepSeek R1 terhadap industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Apa sebabnya?
Dikutip dari TechCrunch, Senin (24/2/2025), dalam sebuah wawancara dengan CEO DataDirect Networks Alex Bouzari, Huang menyebut bahwa DeepSeek R1 sebagai sesuatu yang menarik. Ia mengatakan bahwa kehadiran model itu seolah-olah industri AI telah selesai, padahal justru sebaliknya. “Seolah-olah semuanya turun begitu saja dari langit dan kita tidak perlu lagi melakukan komputasi. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya,” kata Huang.
Baca Juga
Wall Street Ambles Setelah Keputusan The Fed, Saham Nvidia Kembali Anjlok
Huang menegaskan bahwa peluncuran R1 sebenarnya membawa dampak positif bagi pasar AI dan mempercepat adopsi teknologi. Ia membantah anggapan yang menyebut bahwa model baru ini akan mengurangi kebutuhan terhadap cip dan server AI yang lebih banyak.
“Model ini membuat semua orang sadar bahwa masih ada banyak peluang untuk membuat AI lebih efisien dari yang kita kira sebelumnya. Dengan demikian, pasar AI semakin berkembang dan semakin banyak pihak yang mengadopsinya,” tambah dia.
Meski DeepSeek telah mencapai kemajuan dalam tahap pre-training model AI, Huang menekankan bahwa post-training tetap menjadi tahap yang krusial dan membutuhkan banyak sumber daya. “Reasoning adalah bagian yang cukup intensif dalam hal komputasi,” tambahnya.
Baca Juga
'Market Cap' Nvidia Tergerus US$ 600 Miliar Gara-Gara Sentimen DeepSeek
Menurut data Bloomberg, saham Nvidia ditutup pada harga US$ 142,62 per lembar pada 24 Januari 2025. Namun, pada Senin 27 Januari, saham tersebut turun drastis hingga ditutup di US$ 118,52 per lembar, atau menghapus sekitar US$ 600 miliar dari kapitalisasi pasar Nvidia hanya dalam 3 hari.
Meski sempat mengalami penurunan signifikan, saham Nvidia kini telah hampir pulih sepenuhnya dalam waktu 1 bulan. Pada Jumat pekan lalu, saham dibuka di US$ 140 per lembar. Perusahaan juga dijadwalkan akan merilis laporan keuangan kuartal keempat pada 26 Februari 2025.
Di sisi lain, DeepSeek juga dikabarkan sedang mencari pendanaan eksternal untuk pertama kalinya. Perusahaan rintisan ini disebut menarik minat investor besar, seperti Alibaba serta lembaga investasi terbesar di China, yakni China Investment Corp dan National Social Security Fund. (C-13)

