Siasat Pelindo Tekan Biaya Logistik, Integrasi Kawasan Industri-Pelabuhan
JAKARTA, investortrust.id – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mengungkapkan, strategi perusahaan menekan biaya logistik nasional, yakni dengan mengintegrasikan kawasan industri dan pelabuhan untuk mengurangi waktu bersandarnya kapal pengangkut peti kemas atau port stay dan cargo stay.
“Untuk menekan biaya logistik harus mempersingkat waktu di pelabuhan, ini terkait dengan port stay dan cargo stay. Kita tidak perlu kapal lama-lama (bersandar) di pelabuhan, karena yang kita kejar itu adalah throughput (arus ekspor-impor peti kemas) dari kapal atau barang itu sendiri,” kata Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Adi Sugiri saat ditemui di Hotel Sunlake Sunter, Jakarta Utara, Rabu (5/2/2025).
“Nah, bagian dari bagaimana kita (Pelindo) menekan biaya logistik adalah melalui pengintegrasian kawasan industri dan pelabuhan,” sambung dia.
Baca Juga
Sebagai catatan, penetapan tarif bongkar-muat peti kemas di pelabuhan termaktub dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 121 Tahun 2018 tentang Perubahan atas PM Nomor 72 Tahun 2017 tentang Jenis, Struktur, Golongan dan Mekanisme Penetapan Tarif Jasa Kepelabuhanan.
Berikut daftar tarif bongkar-muat peti kemas domestik:
-) FCL -Full ukuran 20’: Rp 750.000 tarif sebelumnya Rp 650.000
-) FCL -Full ukuran 40’: Rp 1.121.000 tarif sebelumnya Rp 975.000
-) FCL- Empty ukuran 20’: Rp 405.000 tarif sebelumnya Rp 405.000
-) FCL- Empty ukuran 40’: Rp 607.000 tarif sebelumnya Rp 607.000
-) Transhipment 20’ (full): Rp 403.846 tarif sebelumnya Rp 350.000
-) Transhipment 40’ (full): Rp 605.769 tarif sebelumnya Rp 525.000
-) Trucklossing 20’ full: Rp 525.000 tarif sebelumnya Rp 455.000
-) Trucklossing 40’ full: Rp 787.500 tarif sebelumnya Rp 682.500
-) Trucklossing 20’ empty: Rp 283.000 tarif sebelumnya Rp 283.000
-) Trucklossing 40’ empty: Rp 425.250 tarif sebelumnya Rp 425.250
-) Shifting 20’ (full) Non Landed: Rp 264.500 tarif sebelumnya Rp 230.000
-) Shifting 40’ (full) Non Landed: Rp 396.750 tarif sebelumnya Rp 345.000
-) Shifting 20’ (full) landed: Rp 830.300 tarif sebelumnya Rp 722.000
-) Shifting 40’ (full) landed: Rp 1.245.450 tarif sebelumnya Rp 1.083.000
-) Buka tutup Palka per unit (20’/40’) Landing: Rp 461.538 tarif sebelumnya Rp 400.000
-) Buka tutup Palka per unit (20’/40’) Non Landing Rp 346.154 tarif sebelumnya Rp 300.000
-) Lift on/Lift off- Receiving Delivery - 20’ full: Rp 215.625 tarif sebelumnya Rp 187.500
-) Lift on/Lift off-Receiving Delivery - 40’ full: Rp 323.438 tarif sebelumnya Rp 281.250
-) Lift on/Lift off 20’ Empty: Rp 118.000 tarif sebelumnya Rp 118.000
-) Lift on/Lift off 40’ Empty: Rp 177.000 tarif sebelumnya Rp 177.000
-) Alat Dermaga Full 20’: Rp 287.500 tarif sebelumnya Rp 250.000
-) Alat Dermaga Full 40’: Rp 431.250 tarif sebelumnya Rp 375.000
-) Alat Dermaga Empty 20’: Rp 169.000 tarif sebelumnya Rp 169.000
-) Alat Dermaga Empty 40’: Rp 253.000 tarif sebelumnya Rp 253.000
-) Dangerous Cargo Full 20’: Rp 1.500.000 tarif sebelumnya Rp 1.300.000
-) Dangerous Cargo Full 40’: Rp 2.250.000 tarif sebelumnya Rp 1.950.000
-) Over Dimension & Out of Gauge (full) 20’: Rp 1.875.000 tarif sebelumnya Rp 1.625.000
-) Over Dimension & Out of Gauge (full) 40’: Rp 2.812.500 tarif sebelumnya Rp 2.437.000
-) Batal Muat & Alih Kapal setelah Stack In 20’: Rp 250.000 tarif sebelumnya Rp 250.000
-) Batal Muat & Alih Kapal setelah Stack In 40’: Rp 375.000 tarif sebelumnya Rp 375.000
-) Peti kemas 45 feet full: Rp 1.406.250 tarif sebelumnya Rp 1.218.750
-) Peti kemas 45 feet empty: Rp 759.375 tarif sebelumnya Rp 759.375
Pelabuhan terintegrasi kawasan industri
Sebagai informasi, Pelindo bersama PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) telah mengintegrasikan pelabuhan dengan kawasan industri dan permukiman yang diberi nama Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Kawasan tersebut memiliki luas lahan sekitar 3.000 hektare (ha), dengan perincian 1.761 ha untuk kawasan industri, 406 ha untuk pelabuhan, dan sisanya permukiman. Dibangun sejak 2012, JIIPE kemudian ditetapkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) pada 2021.
Baca Juga
DPR Minta Pelabuhan Pelindo Bisa Bersaing dengan Negara Lain
Salah satu tenant yang berada di KEK Gresik tersebut adalah pabrik pemurnian logam (smelter) milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Pabrik dengan kapasitas pengolahan konsentrat sebesar 1,7 juta ton per tahun ini dibangun di atas lahan 100 ha di JIIPE dengan total investasi US$ 3,17 miliar atau sekitar Rp 48 triliun (asumsi kurs Rp 15.702 per dolar).
Selain di Jawa Timur, Pelindo juga mengembangkan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pelabuhan ini berjarak 2 kilometer (km) dengan Kawasan Industri Kuala Tanjung yang dikelola PT Prima Pengembangan Kawasan, anak perusahaan PT Subholding Pelindo Solusi Logistk (SPSL).
Pelabuhan Kuala Tanjung juga terhubung dengan KEK Sei Mangkei di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, melalui jalan tol dan jalur kereta api. Pelindo, bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) membangun jalur kereta api sepanjang 42 km. Transportasi melalui kereta api ini akan memangkas waktu tempuh menjadi 30 - 40 menit dari yang sebelumnya yaitu lebih dari satu jam perjalanan.
Adapun PT Industri Nabati Lestari (INL), entitas anak usaha PTPN III, menjadi salah satu pemasok utama Kuala Tanjung Multi Purpose Terminal. Setiap hari, PT INL mengirim sekitar 1.500 ton minyak goreng ke Kuala Tanjung, 90% di antaranya diekspor, utamanya ke India. Selain itu, ada PT Unilever Tbk yang mengirim semifinished product, seperti bahan baku sabun dan kosmetik ke Kuala Tanjung sekitar 36 x 20 TEUs per hari.
Terakhir, Pelindo juga mengembangkan Terminal Kijing yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Pelabuhan tersebut dekat dengan Kawasan Industri Mempawah yang mana memiliki salah satu tenant yakni PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI).
PT BAI mengelola Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 1 yang diproyeksikan mampu memproduksi 1 juta ton alumina per tahun dengan serapan 3,3 juta ton bijih bauksit bila beroperasi penuh.
Sedangkan jangka panjangnya, konsorsium antara PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menargetkan produksi alumina menjadi 2 juta ton setelah SGAR fase 2 rampung. Diketahui, proyek SGAR fase 2 akan mulai digarap pada tahun 2025 ini. Adapun kedua proyek tersebut menelan investasi sekitar US$ 1,7 miliar.

