Polytron Optimistis Tumbuh Double Digit, Meski Pemerintah Merelaksasi Impor Elektronik
JAKARTA, investortrust.id - PT Hartono Istana Teknologi atau Polytron menyebutkan relaksasi impor yang tertuang pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor tak berdampak positif pada industri elektronik.
Pasalnya, menurut Commercial Director Polytron Tekno Wibowo, kebijakan tersebut bisa menghambat kinerja perusahaan dalam negeri, khususnya yang sudah memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sesuai regulasi pemerintah.
Baca Juga
Polytron Bakal Luncurkan Mobil Listrik, Kerja Sama dengan Perusahaan China?
"Kalau bicara kebijakan pemerintah, sebetulnya relaksasi impor tentu saja tidak positif buat kita, karena kita berkomitmen untuk membangun produksi di sini. Kebijakan tersebut justru membawa barang impor masuk dan bisa berdampak negatif buat produsen dalam negeri," ucap Tekno di Jakarta Selatan, Selasa (21/1/2025).
Tekno pun mengungkapkan, banyaknya barang elektronik impor yang masuk Tanah Air terlihat dari massifnya penjualan produk di marketplace atau e-commerce. "Ya parah lah. Bisa dilihat saat membuka e-commerce banyak barang impor. Mekanisme penjualan paling gampang melalui marketplace, banyak merek yang tak pernah didengar dijual di sana," ungkapnya.
Oleh sebab itu, Tekno menilai, Permendag 8/2024 bakal memberatkan industri elektronik. Polytron pun berharap ke depan, pemerintah akan membuat regulasi yang dapat berpihak pada industri dalam negeri.
Baca Juga
Industri Elektronik Indonesia Masih Tergerus Impor, Ini Penyebabnya
"Tetapi kita pada dasarnya tidak bisa mengharapkan dari pemerintah, karena pemerintah hanya bikin aturan, tapi saya pikir mungkin prioritas pemerintah belum tentu sama dengan kita," terang Tekno.
Meskipun ada kebijakan relaksasi impor tersebut, Tekno menyebutkan, Polytron tetap mamasang target pertumbuhan kinerja perusahaan tahun 2025 bertumbuh double digit sebagaimana yang telah dicapai pada 2024 lalu, yakni 14%.
"Proyeksi pertumbuhan perseroan masih di double digit, kira-kira 10% secara keseluruhan. Karena EV masih kecil, siapa tahu tahun ini EV bisa jadi kuda hitam dan lebih baik," bebernya.

